BAB
I
PENDAHULUAN
A. LATAR
BELAKANG MASALAH
Peradaban
yang terus maju dan berkembang, telah menghadapkan kita kepada situasi sosial
yang selalu dinamis. Begitu pula dengan kondisi kekinian saat ini, media telah
membanjiri berbagai ruang dan scope
dalam kehidupan manusia. Konsekuensi logis yang terjadi adalah segala aspek
kehidupan manusia tak terlepas dari keberadaan media sebagai sarana komunikasi
dan informasi. Saluran televisi baik yang terestrial, satelit maupun digital
dan stasiun radio yang jumlahnya tak terhitung telah memenuhi gelombang udara
kita. Surat kabar, majalah, buku, komik, film, video dan animasi saling
bersaing untuk mendapatkan waktu kita yang sangat berharga. Bahkan berselancar
di internet sudah menjadi aktivitas sehari-hari bagi sebagian besar masyarakat
yang hidup dalam dunia industri ini.
Seolah-olah
melek media merupakan hal yang lazim
dan mutlak dimiliki oleh setiap individu. Namun, seiring dengan berjalannya
waktu peranan media pun semakin bergesar, bahkan beralih fungsi dari fungsi
semestinya. Dalam makalah ini, akan mengkaji lebih dalam tentang pergesaran
fungsi televisi yang sekarang cenderung menonjolkan sisi komersialnya.
B. RUMUSAN
MASALAH
Berdasarkan
latar belakang diatas, maka dapat dijabarkan rumusan dari permasalahan dalam
makalah ini yakni :
1. Bagaimana
pendayagunaan media massa?
2. Bagaimanakah
perkembangan televisi di Indonesia?
3. Apa
dan bagaimanakah kapitalisme global itu?
4. Seperti
apakah komersialisasi di televisi?
C. TUJUAN
Sedangkan
tujuan dari makalah ini yakni :
1. Dapat
mengetahui dan memahami bagaimana pendayagunaan media massa.
2. Dapat
mengetahui tentang perkembangan televisi di Indonesia.
3. Mengetahui
dan memahami tentang kapitalisme global.
4. Mengetahui
dan memahami secara mendalam mengenai komersialisasi pada televisi.
BAB II
TINJAUAN PUSTAKA
Berdasarkan artikata.com (2012) pengertian komersialisasi yakni perbuatan
menjadikan sesuatu sebagai barang dagangan,komersiil. Sedangkan istilah
komunikasi menurut Carl I. Hovland (Mulyana, 2007) yakni merupakan proses yang
memungkinkan seseorang (komunikator) menyampaikan rangsangan (biasanya berupa
lambang-lambang verbal untuk mengubah perilaku orang lain. Sedangkan kata
“massa” mengandung pengertian kekuatan dan solidaritas dalam kalangan kelas
pekerja (McQuail, 1994).
Komunikasi melalui media seperti
yang banyak dijumpai sekarang ini disebut sebagai komunikasi massa. Konsep
komunikasi massa merupakan suatu proses dimana organisasi media memproduksi dan
menyebarkan pesan kepada publik secara luas dan pada sisi lain merupakan proses
dimana pesan tersebut dicari digunakan dan dikonsumsi oleh audience (Sendjaja,
2002:21).
Media massa adalah alat yang dapat
digunakan untuk menyampaikan pesan secara serentak kepada khalayak banyak yang berbeda-beda
dan tersebar di berbagai tempat. Alat yang digunakan untuk menyampaikan pesan
itu sendiri bisa berupa media cetak dan elektronik. Dimana kedua alat ini tidak
lepas dari dunia pers. Karena tidak dapat dipungkiri media massa merupakan
produk dari pers. Dengan kata lain, pers merupakan sebutan dari suatu nama
institusisosial yang memproduksi media massa yang berfungsi sebagai media utama
proses komunikasi massa. Karena media massa itu sendiri singkatan dari media
komunikasi massa. Jenis media massa terdiri dari media cetak, seperti: surat
kabar(koran), tabloid, majalah, buletin, pamflet maupun leaflet dan media elektronik,
seperti: radio, televisi maupun internet.
Menurut DeWitt C. Reddick, (1976) fungsi
utama media massa adalah untuk mengkomunikasikan ke semua manusia lainnya
mengenai perilaku, perasaan, dan pemikiran mereka. Sebagai
salah satu media dalam komunikasi massa, televisi merupakan media komunikasi
yang menyediakan berbagai informasi yang update, dan menyebarkannya kepada
khalayak umum.
Televisi adalah sebuah media
telekomunikasi terkenal yang
berfungsi sebagai penerima siaran gambar bergerak beserta suara, baik itu yang monokrom
(hitam-putih) maupun berwarna.
Kata "televisi" merupakan gabungan dari kata tele ("jauh")
dari bahasa Yunani
dan visio ("penglihatan") dari bahasa
Latin, sehingga televisi dapat diartikan sebagai “alat
komunikasi jarak jauh yang menggunakan media visual/penglihatan.” Dalam
Baksin (2006: 16) mendefinisikan bahwa: “Televisi merupakan hasil produk
teknologi tinggi (hi-tech) yang menyampaikan isi pesan dalam bentuk audiovisual
gerak. Isi pesan audiovisual gerak memiliki kekuatan yang sangat tinggi untuk mempengaruhi
mental, pola pikir, dan tindak individu”.
BAB
III
PEMBAHASAN
A. Pendayagunaan
Media Massa
Eksistensi
media massa dalam kehidupan sosial sudah menjadi konsumsi harian, bahkan
merupakan sesuatu yang bersifat “candu”. Ketika keberadaan media sudah memenuhi
seluruh ruang sosial manusia, Sardar&Loon (2008) mengungkapkan bahwa
diperlukan adanya studi tentang media bagi seluruh masyarakat dalam pemahaman
tentang media itu sendiri. Sehingga kepahaman tentang media menjadikan
masyarakat dapat objektif dalam mendayagunakan media massa serta tidak mudah
terseret arus yang disuguhkan.
Dominick
menyampaikan bahwa dalam bentuk paling sederhana, uses and gratification model
memosisikan manusia selalu memiliki kebutuhan/dorongan tertentu yang dipuaskan
oleh sumber media dan non media. Kebutuhan aktual yang dipuaskan oleh media
disebut media gratification. Penggunaan dan kepuasan masyarakat/audience dalam mendayagunakan media
dibagi dalam 4 kategori sistem yakni:
1. Kognisi
/ Pengetahuan
Dengan adanya media
dapat mendasari tindakan seseorang untuk mengetahui sesuatu.
2. Diversion
atau Hiburan
Media digunakan sebagai
hiburan. Bentuk hiburan diantaranya : stimulation (pencarian untuk mengurangi
rasa bosan), relaxation (pelarian
dari tekanan masalah), emotional release (pelepasan
emosi dari perasaan dan energi yang terpendam.
3.
Social
Utility (Kepentingan Sosial)
Sebagai kepentingan
sosial maksudnya adalah media digunakan sebagai kebutuhan untuk memperkuat
hubungan dengan keluarga, teman, dan kerabat karena adanya kesamaan landasan
untuk pembicaraan masalah sosial.
4.
Withdrawal
(Pelarian)
Orang menggunakan media
tidak hanya untuk santai melainkan juga untuk pelarian, untuk mengatasi rintangan
antara mereka dengan orang-orang lain.
Dalam
segi pelestarian dan penanaman nilai, media
massa juga berperan untuk membentuk keragaman budaya yang dihasilkan sebagai
salah satu akibat pengaruh media terhadap sistem nilai, pikir dan tindakan
manusia.
B. Perkembangan
Televisi
Televisi
mulai hadir di Indonesia sejak tahun 1962 dengan kemunculan dari Televisi
Republik Indonesia (TVRI) yang pada masa itu dijadikan sebagai salah satu alat
kontrol pemerintahan orde lama. Pada masa orde berikutnya yakni orde baru,
keberadaan TVRI masih menjadi satu-satunya media penyiaran milik pemerintah.
Selanjutnya, pada tahun 90-an lahirlah sebuah televisi swasta pertama di
Indonesia yakni Rajawali Citra Televisi (RCTI). Pada mulanya RCTI merupakan
televis berbayar yang ditanyangkan di daerah tertentu, namun pada
perkembangannya RCTI menyuguhkan berbagai siaran independen yang dapat
dijangkau di seluruh Indonesia. Siaran yang disajikan yakni didominasi oleh
hiburan, dan sedikit program berita.
Kemudian lahirlah televisi swasta lainnya
yakni Surya Citra Televisi
(SCTV) yang juga menyuguhkan siaran independen dengan program yang disuguhkan
hampir sama dengan RCTI. Lalu diikuti dengan kemunculan Televisi Pendidikan
Indonesia (TPI), dan Indosiar pada tahun 1995. Kemudian muncul lagi ANTEVE. Pada
masa itu kepemilikan stasiun televisi berorientasi pada orientasi kekuasaan
yang berjaya saat itu. Keberadaan berbagai stasiun televisi saat itu mampu
menyita perhatian khalayak dengan berbagai siaran ang disuguhkan. Pada awal
abad 21 pun bermunculan beberapa stasiun televisi swasta yang memiliki varian program
hampir sama dengan sebelumnya. Diantara lain adalah Global TV, Metro TV, LATIVI
(sekarang berubah menjadi TV One), Trans TV, dan Trans 7.
Siaran
televisi tidak bisa diindeks, paling tidak sampai ada teknologi yang
memungkinkannya. Itu berarti semakin panjang acaranya, semakin penonton harus
menyaksikannya. Untuk mencegah kebosanan, siaran berita televisi umumnya tidak
lebih dari satu jam. Televisi dapat menyiarkan berita seketika, juga bisa
meliput suatu peristiwa seperti pelantikan presiden mendaratnya pesawat angkasa
luar, ketika peristiwa ini sedang berlangsung dan ini tidak bisa dilakukan oleh
koran. Ada implikasi yang penting. Pertama, televisi bisa menciptakan kesan
atau rasa kebersamaan. Kedua, dalam siaran langsung, penonton bisa terkecoh bahwa
apa yang ditayangkan itulah kenyataan sebenarnya.
C. Kapitalisme
Global
Kapitalisme
adalah sistem perekonomian yang menekankan peran kapital (modal), yakni
kekayaan dalam segala jenisnya, termasuk barang-barang yang digunakan dalam
produksi barang lainnya (Bagus, 1996). Ebenstein (1990) menyebut kapitalisme
sebagai sistem sosial yang menyeluruh, lebih dari sekedar sistem perekonomian.
Ia mengaitkan perkembangan kapitalisme sebagai bagian dari gerakan
individualisme. Sedangkan Hayek (1978) memandang kapitalisme sebagai perwujudan
liberalisme dalam ekonomi. Sedangkan menurut Ayn Rand (1970), kapitalisme
adalah "a social system based on the recognition of individual rights,
including property rights, in which all property is privately owned" (suatu
sistem sosial yang berbasiskan pada pengakuan atas hak-hak individu, termasuk
hak milik di mana semua pemilikan adalah milik privat).
Kaum
kapitalis memandang kebebasan adalah suatu kebutuhan bagi individu untuk
menciptakan keserasian antara dirinya dan masyarakat. Sebab kebebasan itu
adalah suatu kekuatan pendorong bagi produksi karena ia benar-benar menjadi hak
manusia yang menggambarkan kehormatan kemanusiaan. Sebagaimana gagasan Adam
Smith yang paling penting ialah tentang ketergantungan peningkatan perekonomian
kemajuan dan kemakmuran kepada kebebasan ekonomi yang tercermin pada kebebasan
individu dalam kebebasan memilih pekerjaannya dalam iklim persaingan yang
bebas.
Globalisasi
pun akhirnya menyeret sebuah sistem kapitalisme global ke dalam seluruh aspek
penyelenggaran negara. Segala permasalahan sosial selalu ditumpangi oleh
kepentingan ekonomi dan pencarian profit.
Pengaruh dari pandangan ekonomi liberal menciptakan sebuah pasar yang
dituntut bersaing dan kompetitif. Satu sisi memang pandangan itu merupakan
sebuah langkah strategis menuju kehidupan yang dinamis, namun di sisi lain,
kapitalis menciptakan sebuah dunia persaingan yang bermotif keuntungan tanpa melihat aspek sosial
masyarakat.
Misalnya
persaingan iklan di media bisa menciptakan ketidak seimbangan antara kualitas
informasi dengan nilai bisnis. Kebanyakan aspek sosial dikalahkan dengan aspek
bisnis, serta tidak mengindahkan dampak sosial yang akan datang terutama bagi
para pemirsa televisi. Media yang ditumpangi kapitalisme inilah yang akhirnya
menimbulkan komersialisasi dalam output penyiaran yang disuguhkan.
.
D. Komersialisasi
Pada Televisi
Komersialisasi
merupakan suatu tindakan yang mengutamakan sisi beneficial dan eksistensi. Sedangkan maksud dari komersialiasi pada
televisi yakni, bergesernya fungsi televisi sebagai media penyiaran yang
edukatif dan informatif menjadi media yang mengutamakan profit/keuntungan
dengan mengesampingkan kualitas siaran yang ditayangkan. Bentuk komersialisasi
dari media televisi saat ini diantaranya adalah:
· Program
yang berbasis pada rating
Pemilihan
tayangan oleh pengelola stasiun televisi sekarang ini didasarkan pada rating
televisi. Walaupun tingginya rating program televisi tidak menjamin akan baik
pula kualitas program yang ditayangkan. Bagi para pengelola stasiun televisi
yang terpenting ialah program-program televisi yang mereka miliki berada di
rating teratas serta diminati oleh mayoritas masyarakat sehingga akan menjadi
pertimbangan bagi para perusahaan iklan untuk memasang iklan di stasiun tv
tersebut pada program tertentu.
Keberadaan
rating ini dipakai sebagai rujukan atau pedoman, bukan kualitas akan program
yang ditayangkan, sehingga pihak pengelola hanya akan menilik keberadaan
program berdasarkan jumlah viewers
semata dan mengesampingkan nilai-nila edukatif dan informatif itu sendiri.
Dengan adanya rating ini misal suatu program mendapat rating yang tinggi, maka
akan memicu bagi stasiun televisi lainnya untuk membuat program serupa dengan
harapan yang sama. Sementara, tidak selalu formulasi dan komposisi sebuah acara
yang sama persis bisa mendapatkan angka rating yang sama persis pula. Baru
setelah semuanya pasti, yakni setelah angka capaian rating didapatkan. Pemasang
iklan baru akan datang. (Wirodono, 2006: 94).
Tingginya
rating suatu program belum tentu diikuti dengan kualitas program tersebut. Jika
dikatakan unggulan atau kualitas, adalah dalam kontek pendapatan iklan belaka.
Oleh karena itu, semua tidak bisa dibenarkan, ketika lembaga rating menjadi
faktor yang menentukan apakah program tersebut berkualitas atau malah hanya kuantitas. Bahkan
program-program yang menempati rating tinggi rentan berbau sensual yang
sesungguhnya tidak layak ditayangkan.
Ada
beberapa dampak negatif dari diberlakukannya rating sebagai “berhala” oleh
insan dalam industri televisi. Dampak pertama adalah seragamnya jenis tayangan
dan pola siaran. Jadi, bila acara musik sedang naik daun, semua stasiun
televisi akan berlomba program sejenis, dan bila perlu jam tayangnya sama
persis, sehingga menghasilkan pola acara yang mirip. Pola seragam acara itu
membuat masyarakat yang tidak punya para bola atau TV kabel tidak punya pilihan
lain. Dampak kedua adalah isi siaran yang bersifat “Jakarta centris” yaitu
situasi yang membuat Indonesia seakan hendak dikerdilkan hanya menjadi Jakarta.
Banyak remaja merasa ketinggalan zaman jika dirinya tidak menggunakan
slogan-slogan yang sering disebut remaja Jakarta. Hal itu mengakibatkan
keragaman budaya bisa menjadi raib. Dampak ketiga adalah kurang diutamakannya
unsur edukatif bagi perkembangan anak dan remaja. Kerapkali tayangan yang dianggap
mendidik justru sebaliknya. Misalnya pada tayangan khusus anak yang menonjolkan
sisi persaingan dan percintaan semata, tanpa adanya nilai edukasi didalamnya. Dampak
keempat adalah tidak terlindunginya khususnya bagi anak dan remaja dari
tayangan yang memuat kekerasan verbal dan visual. Kekerasan verbal yang
dimaksud adalah segala macam makian, sumpah serapah dan kalimat lain yang tidak
mendidik. Dalam sinetron dan telenovela yang bermotif balas dendam dan atau
perselingkuhan. Kita dapat mendengar banyak kata, frasa dan kalimat yang
sesungguhnya tidak sesuai dikonsumsi oleh anak dan remaja. (Effendy, 2008:
13-14).
· Maraknya
Iklan sebagai profit making
Selain
rating, komersialisasi yang menimpa media televisi yakni keberadaan iklan yang
semakin marak dalam stasiun televisi. Apabila dikalkulasi dalam 1 jam
penayangan sebuah program, durasi iklan hampir mencapai 25menit atau sekitar
50% dari tayangan itu sendiri, walhasil penonton akan lebih banyak melihat
iklan dibanding tayangan yang ada. Hal ini menunjukkan betapa pengelola stasiun
televisi lebih memfokuskan untuk mendapat sokongan iklan yang banyak daripada
memperbaiki kualitas tayangan yang ditampilkan.
Frekuensi
iklan yang banyak di stasiun televisi Indonesia tentu saja merupakan
kepentingan ekonomi bagi para pengelolanya, profit
making. Hal ini sangat kontra bila dibandingkan dengan tayangan televisi
yang ada di luar negeri, iklan tidak menjadi sasaran utama bagi pengelola
stasiun televisi, yang terpenting adalah customer
satisfaction (kepuasan konsumen) karena sistem yang digunakan adalah
televisi berlangganan, penonton membeli untuk setiap tayangan yang akan mereka
nikmati, sehingga frekuensi iklan pun sangat jarang. Padahal kita ketahui
sendiri iklan adalah suatu bentuk marketing dari sebuah produk atau layanan
tertentu, sehingga dapat diasumsikan bahwa televisi merupakan media promosi
bagi suatu produk bukan lagi sebagai lembaga penyiaran yang edukatif dan
informatif.
Dampak
negatif dari iklan yakni secara tidak langsung menanamkan budaya konsumerisme
dan hedonisme kepada khalayak umum. Iklan dengan visualisasi yang menarik dan
produk yang menjanjikan selalu menarik perhatian dan atensi khalayak untuk
membeli sehingga masyarakat menjadi konsumtif dan boros.
· Ekonomi
Politik
Mulai
dari zaman orde lama hingga sekarang keberadaan media tak terlepas dari
pengaruh kekuatan pihak penguasa. Pihak penguasa memiliki kecenderungan
menanamkan pengaruhnya melalui kepemilikan media massa. Jalaluddin Rakhmat
(2000:7), citra seseorang membantu dalam pemahaman, penilaian,
pengidentifikasian peristiwa, gagasan, tujuan, atau pemimpin politik. Pencitraan
bagi penguasa/pihak yang memiliki kepentingan tertentu merupakan hal yang
sangat penting dalam menghimpun simpati massa. Menurut Mead (Jalaluddin
Rakhmat, 2000) pada dasarnya perspektif media merupakan perspektif yang menaruh
perhatian pada aspek komunikasi dari belajar menekankan sifat aktif, bukan
reaktif dalam proses itu. Maksudnya bahwa manusia tidak hanya menanggapi secara
langsung tindakan orang lain, melainkan menanggapi apa yang mereka percaya
sebagai maksud orang lain, nilai mereka tentang maksud, dan apa yang mereka
harapkan di kemudian hari.
Media
yang ditumpangi kekuatan penguasa tertentu ini menggunakan propaganda politik sebagai
sasarannya. Lasswell (dalam Hafied Cangara, 2009) menyatakan bahwa propaganda
adalah suatu kegiatan komunikasi yang erat kaitannya dengan persuasi yang
membawa masyarakat dalam situsi kebingungan, ragu-ragu, dan terpaku pada
sesuatu yang tampak menipu dan menjatuhkan.
Propaganda
ini dilakukan dalam berbagai bentuk diantaranya yakni kampanye. McGniss dalam
bukunya The Selling Of President (dalam
Hafied Cangara, 2009) menyebutkan bahwa media massa utamanya televisi memiliki
peran yang menentukan dalam pembentukan citra kandidat. Weaver bahkan
menyatakan bahwa media memainkan peranan besar dalam menjadikan sejumlah kandidat
dengan sifat-sifat tertentu yang lebih menonjol dibanding kandidat lainnya.
Contoh riil-ya di Indonesia yakni melalui kampanye iklan yang gencar dan aktif,
Partai Nasional Demokrat yang merupakan partai baru, popularitasnya menjadi
meningkat serta ratingnya tinggi. Begitu pula SBY berhasil memenangkan pemilu
presiden meskipun dimotori oleh partai baru juga tak lepas dari iklan dan
jargon yang gencar disebarluaskan di televisi.
Sebagai
salah satu media massa, televisi bersifat netral namun dari siaran-siarannya
tidak karena bergantung pada orientasi, visi, dan misi penguasa yang ada di
belakangnya. Misalkan seperti Metro TV milik Surya Paloh yang gencar
memberitakan tentang kebaikan dan berbagai aksi Golkar, TV One milik Aburizal
Bakrie yang lebih gencar mempromosikan Nasional Demokrat (Nasdem). Hal ini
menunjukkan bahwa keberadaan televisi sebagai media netral menjadi berpihak
pada salah satu kubu, sehingga fungsi netral media menjadi bergeser.
Komersialisasi
media massa menjadikan media itu hanyalah untuk merauk keuntungan, tanpa
memikirkan dampak dari komersialisasi itu sendiri. Banyaknya pengusaha yang
menguasai media, membuat media menjadi apa yang diinginkan oleh pemilik media
tersebut, dan independensi mereka patut di pertanyakan. Kecenderungan pengusaha
yang hanya menginginkan keuntungan, sangat mempengaruhi peran dari media itu
sendiri, dari tujuan awalnya suatu media adalah menyampaikan berita dengan
sejelas-jelasnya, dari sudut pandang yang objektif tanpa menyudutkan maupun
memihak salah satu golongan, dan berdasarkan fakta yang terjadi dilapangan.
Tetapi, dasar dari tujuan tersebut mulai dikebiri dengan dikorsialisasikannya
media oleh pemilik media massa elektronik yang bersangkutan, yang beranggapan
bahwa media massa elektronik hanyalah sebuah barang atau benda yang dapat
diperjual belikan untuk mendapat keuntungan sebesar-besarnya, tanpa
menghiraukan kaidah-kaidah dari media massa tersebut.
BAB
III
PENUTUP
A. KESIMPULAN
Dinamisasi
kehidupan yang selalu berubah dan berkembang ke arah yang lebih maju telah
menempatkan media sebagai sebuah kebutuhan yang tak dapat dielakkan lagi.
Kepentingan kapital pun turut memotori pergerakan berbagai elemen kehidupan
berbangsa dan bernegara termasuk dalam kenetralan media massa. Begitu pula yang
terjadi pada televisi saat ini, dengan ditumpangi berbagai kepentingan
kapitalisme, media netral ini mengalami berbagai perubahan mendasar dalam
penyiarannya sebagai media edukatif dan informatif. Sisi komersialitas pun
ditonjolkan dalam berbagai bentuk yang merupakan kewenangan mutlak dari
pengelola stasiun televisi tersebut. Akibatnya keberadaan televisi dalam
menjalankan fungsi awalnya menjadi bergeser ke fungsi komersiil dan
mengesampingkan dampak yang ditimbulkan terhadap khalayak umum.
B. SARAN
Kepada
Pengelola Stasiun televisi agar lebih memperbaiki kualitas tayangannya
disamping mengejar komersialisasi dan keuntungan semata, agar fungsi awal dari
media televisi sebagai media netral dan edukatif dapat tetap terjaga
kelangsungannya. Kepada khalayak agar lebih subjektif memilih dan menyeleksi
tayangan yang baik sehingga dapat memberikan kemanfaatan dan menyikapi dengan
bijaksana tayangan dari media televisi, serta meminimalisir dampak negatif yang
diakibatkan oleh televisi.
DAFTAR PUSTAKA
Bagus, L. 1996. Kamus Filsafat. Jakarta : Gramedia.
Cangaro, H. 2009. Komunikasi Politik konsep, teori, strategi.
Jakarta: PT.RajaGrafindo Persada.
Davis, H dan Paul
Walton. 2010. Bahasa,Citra, Media.
Yogyakarta : Jalasutra.
Ebenstein, W. 1990. Isme-Isme Dewasa Ini, (terjemahan). Jakarta
: Erlangga.
Effendy, H. 2008. Industri Pertelevisian Indonesia.
Jakarta: Erlangga.
Hayek, F.A. 1978. The Prinsiples of A Liberal Social Order,
dalam Anthony de Crespigny and Jeremy Cronin, Ideologies of Politics. London
: Oxford University Press.
http://id.wikipedia.org/wiki/Televisi
McQuail, D. 1994. Teori Komunikasi Massa Suatu Pengantar. Jakarta: Erlangga.
Mulyana, D. 2007. Ilmu Komunikasi Suatu Pengantar. Bandung:
Remaja Rosdakarya.
Rakhmat, J. 2000. KOMUNIKASI POLITIK Khalayak dan Efek. Bandung: PT. Remaja Rosdakarya.
Rand, A. 1970. Capitalism: The Unknown Ideal. New York :
A Signet Book.
Sardar, Z dan Boris Van
Loon. 2008. Membongkar Kuasa Media.
Yogyakarta : Resist Book.
Sendjaja,SD. 2002. Teori Komunikasi. Jakarta: Pusat
Penerbit Universitas Terbuka.
Wirowidono, S. 2006. Matikan TV-Mu, Teror Media Televisi di
Indonesia, Yogyakarta : Resist Book.