Sabtu, 02 Maret 2013

Unknown


Dalam menunggu itu telah banyak belajar
Dalam sepersekian detik yang semakin bertambah itu
Semakin mendewasakan dan mengaburkan
Mengaburkan apakah masih diambang tunggu atau sedang beranjak pergi
Iya, yang pasti pergi menuju ruang tunggu dalam dimensi yang berbeda
Aku masih memiliki tunggu dalam porsinya yang sama
namun cara yang berbeda dan ruang yang berbeda
......
Tenang.. kamu masih menjadi wismaku
tempatku berkeluh, tempatku berpulang, tempatku bersandar
dengan cara yang urung mengusikmu
menjadikanmu wisma dengan caraku sendiri
tau kenapa?
Karena ingin.
Iya hanya karena ingin.

Makalah- Komersialisasi Televisi



BAB I
PENDAHULUAN

A.  LATAR BELAKANG MASALAH
Peradaban yang terus maju dan berkembang, telah menghadapkan kita kepada situasi sosial yang selalu dinamis. Begitu pula dengan kondisi kekinian saat ini, media telah membanjiri berbagai ruang dan scope dalam kehidupan manusia. Konsekuensi logis yang terjadi adalah segala aspek kehidupan manusia tak terlepas dari keberadaan media sebagai sarana komunikasi dan informasi. Saluran televisi baik yang terestrial, satelit maupun digital dan stasiun radio yang jumlahnya tak terhitung telah memenuhi gelombang udara kita. Surat kabar, majalah, buku, komik, film, video dan animasi saling bersaing untuk mendapatkan waktu kita yang sangat berharga. Bahkan berselancar di internet sudah menjadi aktivitas sehari-hari bagi sebagian besar masyarakat yang hidup dalam dunia industri ini.
Seolah-olah melek media merupakan hal yang lazim dan mutlak dimiliki oleh setiap individu. Namun, seiring dengan berjalannya waktu peranan media pun semakin bergesar, bahkan beralih fungsi dari fungsi semestinya. Dalam makalah ini, akan mengkaji lebih dalam tentang pergesaran fungsi televisi yang sekarang cenderung menonjolkan sisi komersialnya.

B.  RUMUSAN MASALAH
Berdasarkan latar belakang diatas, maka dapat dijabarkan rumusan dari permasalahan dalam makalah ini yakni :
1.    Bagaimana pendayagunaan media massa?
2.    Bagaimanakah perkembangan televisi di Indonesia?
3.    Apa dan bagaimanakah kapitalisme global itu?
4.    Seperti apakah komersialisasi di televisi?

C.  TUJUAN
Sedangkan tujuan dari makalah ini yakni :
1.      Dapat mengetahui dan memahami bagaimana pendayagunaan media massa.
2.      Dapat mengetahui tentang perkembangan televisi di Indonesia.
3.      Mengetahui dan memahami tentang kapitalisme global.
4.      Mengetahui dan memahami secara mendalam mengenai komersialisasi pada televisi.

BAB II
TINJAUAN PUSTAKA
Berdasarkan artikata.com (2012) pengertian komersialisasi yakni perbuatan menjadikan sesuatu sebagai barang dagangan,komersiil. Sedangkan istilah komunikasi menurut Carl I. Hovland (Mulyana, 2007) yakni merupakan proses yang memungkinkan seseorang (komunikator) menyampaikan rangsangan (biasanya berupa lambang-lambang verbal untuk mengubah perilaku orang lain. Sedangkan kata “massa” mengandung pengertian kekuatan dan solidaritas dalam kalangan kelas pekerja (McQuail, 1994).
            Komunikasi melalui media seperti yang banyak dijumpai sekarang ini disebut sebagai komunikasi massa. Konsep komunikasi massa merupakan suatu proses dimana organisasi media memproduksi dan menyebarkan pesan kepada publik secara luas dan pada sisi lain merupakan proses dimana pesan tersebut dicari digunakan dan dikonsumsi oleh audience (Sendjaja, 2002:21).
            Media massa adalah alat yang dapat digunakan untuk menyampaikan pesan secara serentak kepada khalayak banyak yang berbeda-beda dan tersebar di berbagai tempat. Alat yang digunakan untuk menyampaikan pesan itu sendiri bisa berupa media cetak dan elektronik. Dimana kedua alat ini tidak lepas dari dunia pers. Karena tidak dapat dipungkiri media massa merupakan produk dari pers. Dengan kata lain, pers merupakan sebutan dari suatu nama institusisosial yang memproduksi media massa yang berfungsi sebagai media utama proses komunikasi massa. Karena media massa itu sendiri singkatan dari media komunikasi massa. Jenis media massa terdiri dari media cetak, seperti: surat kabar(koran), tabloid, majalah, buletin, pamflet maupun leaflet dan media elektronik, seperti: radio, televisi maupun internet.
Menurut DeWitt C. Reddick, (1976) fungsi utama media massa adalah untuk mengkomunikasikan ke semua manusia lainnya mengenai perilaku, perasaan, dan pemikiran mereka. Sebagai salah satu media dalam komunikasi massa, televisi merupakan media komunikasi yang menyediakan berbagai informasi yang update, dan menyebarkannya kepada khalayak umum.
Televisi adalah sebuah media telekomunikasi terkenal yang berfungsi sebagai penerima siaran gambar bergerak beserta suara, baik itu yang monokrom (hitam-putih) maupun berwarna. Kata "televisi" merupakan gabungan dari kata tele ("jauh") dari bahasa Yunani dan visio ("penglihatan") dari bahasa Latin, sehingga televisi dapat diartikan sebagai “alat komunikasi jarak jauh yang menggunakan media visual/penglihatan.” Dalam Baksin (2006: 16) mendefinisikan bahwa: “Televisi merupakan hasil produk teknologi tinggi (hi-tech) yang menyampaikan isi pesan dalam bentuk audiovisual gerak. Isi pesan audiovisual gerak memiliki kekuatan yang sangat tinggi untuk mempengaruhi mental, pola pikir, dan tindak individu”.










BAB III
PEMBAHASAN
A.  Pendayagunaan Media Massa
Eksistensi media massa dalam kehidupan sosial sudah menjadi konsumsi harian, bahkan merupakan sesuatu yang bersifat “candu”. Ketika keberadaan media sudah memenuhi seluruh ruang sosial manusia, Sardar&Loon (2008) mengungkapkan bahwa diperlukan adanya studi tentang media bagi seluruh masyarakat dalam pemahaman tentang media itu sendiri. Sehingga kepahaman tentang media menjadikan masyarakat dapat objektif dalam mendayagunakan media massa serta tidak mudah terseret arus yang disuguhkan.
Dominick menyampaikan bahwa dalam bentuk paling sederhana, uses and gratification model memosisikan manusia selalu memiliki kebutuhan/dorongan tertentu yang dipuaskan oleh sumber media dan non media. Kebutuhan aktual yang dipuaskan oleh media disebut media gratification. Penggunaan dan kepuasan masyarakat/audience dalam mendayagunakan media dibagi dalam 4 kategori sistem yakni:
1.    Kognisi / Pengetahuan
Dengan adanya media dapat mendasari tindakan seseorang untuk mengetahui sesuatu.
2.    Diversion atau Hiburan
Media digunakan sebagai hiburan. Bentuk hiburan diantaranya : stimulation (pencarian untuk mengurangi rasa bosan), relaxation (pelarian dari tekanan masalah), emotional release (pelepasan emosi dari perasaan dan energi yang terpendam.
3.    Social Utility (Kepentingan Sosial)
Sebagai kepentingan sosial maksudnya adalah media digunakan sebagai kebutuhan untuk memperkuat hubungan dengan keluarga, teman, dan kerabat karena adanya kesamaan landasan untuk pembicaraan masalah sosial.
4.    Withdrawal (Pelarian)
Orang menggunakan media tidak hanya untuk santai melainkan juga untuk pelarian, untuk mengatasi rintangan antara mereka dengan orang-orang lain.
Dalam segi  pelestarian dan penanaman nilai, media massa juga berperan untuk membentuk keragaman budaya yang dihasilkan sebagai salah satu akibat pengaruh media terhadap sistem nilai, pikir dan tindakan manusia.

B.  Perkembangan Televisi
Televisi mulai hadir di Indonesia sejak tahun 1962 dengan kemunculan dari Televisi Republik Indonesia (TVRI) yang pada masa itu dijadikan sebagai salah satu alat kontrol pemerintahan orde lama. Pada masa orde berikutnya yakni orde baru, keberadaan TVRI masih menjadi satu-satunya media penyiaran milik pemerintah. Selanjutnya, pada tahun 90-an lahirlah sebuah televisi swasta pertama di Indonesia yakni Rajawali Citra Televisi (RCTI). Pada mulanya RCTI merupakan televis berbayar yang ditanyangkan di daerah tertentu, namun pada perkembangannya RCTI menyuguhkan berbagai siaran independen yang dapat dijangkau di seluruh Indonesia. Siaran yang disajikan yakni didominasi oleh hiburan, dan sedikit program berita.
 Kemudian lahirlah televisi swasta lainnya yakni Surya Citra Televisi
(SCTV) yang juga menyuguhkan siaran independen dengan program yang disuguhkan hampir sama dengan RCTI. Lalu diikuti dengan kemunculan Televisi Pendidikan Indonesia (TPI), dan Indosiar pada tahun 1995. Kemudian muncul lagi ANTEVE. Pada masa itu kepemilikan stasiun televisi berorientasi pada orientasi kekuasaan yang berjaya saat itu. Keberadaan berbagai stasiun televisi saat itu mampu menyita perhatian khalayak dengan berbagai siaran ang disuguhkan. Pada awal abad 21 pun bermunculan beberapa stasiun televisi swasta yang memiliki varian program hampir sama dengan sebelumnya. Diantara lain adalah Global TV, Metro TV, LATIVI (sekarang berubah menjadi TV One), Trans TV, dan Trans 7.
Siaran televisi tidak bisa diindeks, paling tidak sampai ada teknologi yang memungkinkannya. Itu berarti semakin panjang acaranya, semakin penonton harus menyaksikannya. Untuk mencegah kebosanan, siaran berita televisi umumnya tidak lebih dari satu jam. Televisi dapat menyiarkan berita seketika, juga bisa meliput suatu peristiwa seperti pelantikan presiden mendaratnya pesawat angkasa luar, ketika peristiwa ini sedang berlangsung dan ini tidak bisa dilakukan oleh koran. Ada implikasi yang penting. Pertama, televisi bisa menciptakan kesan atau rasa kebersamaan. Kedua, dalam siaran langsung, penonton bisa terkecoh bahwa apa yang ditayangkan itulah kenyataan sebenarnya.

C.  Kapitalisme Global
Kapitalisme adalah sistem perekonomian yang menekankan peran kapital (modal), yakni kekayaan dalam segala jenisnya, termasuk barang-barang yang digunakan dalam produksi barang lainnya (Bagus, 1996). Ebenstein (1990) menyebut kapitalisme sebagai sistem sosial yang menyeluruh, lebih dari sekedar sistem perekonomian. Ia mengaitkan perkembangan kapitalisme sebagai bagian dari gerakan individualisme. Sedangkan Hayek (1978) memandang kapitalisme sebagai perwujudan liberalisme dalam ekonomi. Sedangkan menurut Ayn Rand (1970), kapitalisme adalah "a social system based on the recognition of individual rights, including property rights, in which all property is privately owned" (suatu sistem sosial yang berbasiskan pada pengakuan atas hak-hak individu, termasuk hak milik di mana semua pemilikan adalah milik privat).
Kaum kapitalis memandang kebebasan adalah suatu kebutuhan bagi individu untuk menciptakan keserasian antara dirinya dan masyarakat. Sebab kebebasan itu adalah suatu kekuatan pendorong bagi produksi karena ia benar-benar menjadi hak manusia yang menggambarkan kehormatan kemanusiaan. Sebagaimana gagasan Adam Smith yang paling penting ialah tentang ketergantungan peningkatan perekonomian kemajuan dan kemakmuran kepada kebebasan ekonomi yang tercermin pada kebebasan individu dalam kebebasan memilih pekerjaannya dalam iklim persaingan yang bebas.
Globalisasi pun akhirnya menyeret sebuah sistem kapitalisme global ke dalam seluruh aspek penyelenggaran negara. Segala permasalahan sosial selalu ditumpangi oleh kepentingan ekonomi dan pencarian profit. Pengaruh dari pandangan ekonomi liberal menciptakan sebuah pasar yang dituntut bersaing dan kompetitif. Satu sisi memang pandangan itu merupakan sebuah langkah strategis menuju kehidupan yang dinamis, namun di sisi lain, kapitalis menciptakan sebuah dunia persaingan yang bermotif  keuntungan tanpa melihat aspek sosial masyarakat.
Misalnya persaingan iklan di media bisa menciptakan ketidak seimbangan antara kualitas informasi dengan nilai bisnis. Kebanyakan aspek sosial dikalahkan dengan aspek bisnis, serta tidak mengindahkan dampak sosial yang akan datang terutama bagi para pemirsa televisi. Media yang ditumpangi kapitalisme inilah yang akhirnya menimbulkan komersialisasi dalam output penyiaran yang disuguhkan.
.
D.  Komersialisasi Pada Televisi
Komersialisasi merupakan suatu tindakan yang mengutamakan sisi beneficial dan eksistensi. Sedangkan maksud dari komersialiasi pada televisi yakni, bergesernya fungsi televisi sebagai media penyiaran yang edukatif dan informatif menjadi media yang mengutamakan profit/keuntungan dengan mengesampingkan kualitas siaran yang ditayangkan. Bentuk komersialisasi dari media televisi saat ini diantaranya adalah:
·      Program yang berbasis pada rating
Pemilihan tayangan oleh pengelola stasiun televisi sekarang ini didasarkan pada rating televisi. Walaupun tingginya rating program televisi tidak menjamin akan baik pula kualitas program yang ditayangkan. Bagi para pengelola stasiun televisi yang terpenting ialah program-program televisi yang mereka miliki berada di rating teratas serta diminati oleh mayoritas masyarakat sehingga akan menjadi pertimbangan bagi para perusahaan iklan untuk memasang iklan di stasiun tv tersebut pada program tertentu.
Keberadaan rating ini dipakai sebagai rujukan atau pedoman, bukan kualitas akan program yang ditayangkan, sehingga pihak pengelola hanya akan menilik keberadaan program berdasarkan jumlah viewers semata dan mengesampingkan nilai-nila edukatif dan informatif itu sendiri. Dengan adanya rating ini misal suatu program mendapat rating yang tinggi, maka akan memicu bagi stasiun televisi lainnya untuk membuat program serupa dengan harapan yang sama. Sementara, tidak selalu formulasi dan komposisi sebuah acara yang sama persis bisa mendapatkan angka rating yang sama persis pula. Baru setelah semuanya pasti, yakni setelah angka capaian rating didapatkan. Pemasang iklan baru akan datang. (Wirodono, 2006: 94).
Tingginya rating suatu program belum tentu diikuti dengan kualitas program tersebut. Jika dikatakan unggulan atau kualitas, adalah dalam kontek pendapatan iklan belaka. Oleh karena itu, semua tidak bisa dibenarkan, ketika lembaga rating menjadi faktor yang menentukan apakah program tersebut  berkualitas atau malah hanya kuantitas. Bahkan program-program yang menempati rating tinggi rentan berbau sensual yang sesungguhnya tidak layak ditayangkan.
Ada beberapa dampak negatif dari diberlakukannya rating sebagai “berhala” oleh insan dalam industri televisi. Dampak pertama adalah seragamnya jenis tayangan dan pola siaran. Jadi, bila acara musik sedang naik daun, semua stasiun televisi akan berlomba program sejenis, dan bila perlu jam tayangnya sama persis, sehingga menghasilkan pola acara yang mirip. Pola seragam acara itu membuat masyarakat yang tidak punya para bola atau TV kabel tidak punya pilihan lain. Dampak kedua adalah isi siaran yang bersifat “Jakarta centris” yaitu situasi yang membuat Indonesia seakan hendak dikerdilkan hanya menjadi Jakarta. Banyak remaja merasa ketinggalan zaman jika dirinya tidak menggunakan slogan-slogan yang sering disebut remaja Jakarta. Hal itu mengakibatkan keragaman budaya bisa menjadi raib. Dampak ketiga adalah kurang diutamakannya unsur edukatif bagi perkembangan anak dan remaja. Kerapkali tayangan yang dianggap mendidik justru sebaliknya. Misalnya pada tayangan khusus anak yang menonjolkan sisi persaingan dan percintaan semata, tanpa adanya nilai edukasi didalamnya. Dampak keempat adalah tidak terlindunginya khususnya bagi anak dan remaja dari tayangan yang memuat kekerasan verbal dan visual. Kekerasan verbal yang dimaksud adalah segala macam makian, sumpah serapah dan kalimat lain yang tidak mendidik. Dalam sinetron dan telenovela yang bermotif balas dendam dan atau perselingkuhan. Kita dapat mendengar banyak kata, frasa dan kalimat yang sesungguhnya tidak sesuai dikonsumsi oleh anak dan remaja. (Effendy, 2008: 13-14).
·      Maraknya Iklan sebagai profit making
Selain rating, komersialisasi yang menimpa media televisi yakni keberadaan iklan yang semakin marak dalam stasiun televisi. Apabila dikalkulasi dalam 1 jam penayangan sebuah program, durasi iklan hampir mencapai 25menit atau sekitar 50% dari tayangan itu sendiri, walhasil penonton akan lebih banyak melihat iklan dibanding tayangan yang ada. Hal ini menunjukkan betapa pengelola stasiun televisi lebih memfokuskan untuk mendapat sokongan iklan yang banyak daripada memperbaiki kualitas tayangan yang ditampilkan.
Frekuensi iklan yang banyak di stasiun televisi Indonesia tentu saja merupakan kepentingan ekonomi bagi para pengelolanya, profit making. Hal ini sangat kontra bila dibandingkan dengan tayangan televisi yang ada di luar negeri, iklan tidak menjadi sasaran utama bagi pengelola stasiun televisi, yang terpenting adalah customer satisfaction (kepuasan konsumen) karena sistem yang digunakan adalah televisi berlangganan, penonton membeli untuk setiap tayangan yang akan mereka nikmati, sehingga frekuensi iklan pun sangat jarang. Padahal kita ketahui sendiri iklan adalah suatu bentuk marketing dari sebuah produk atau layanan tertentu, sehingga dapat diasumsikan bahwa televisi merupakan media promosi bagi suatu produk bukan lagi sebagai lembaga penyiaran yang edukatif dan informatif.
Dampak negatif dari iklan yakni secara tidak langsung menanamkan budaya konsumerisme dan hedonisme kepada khalayak umum. Iklan dengan visualisasi yang menarik dan produk yang menjanjikan selalu menarik perhatian dan atensi khalayak untuk membeli sehingga masyarakat menjadi konsumtif dan boros.
·      Ekonomi Politik
Mulai dari zaman orde lama hingga sekarang keberadaan media tak terlepas dari pengaruh kekuatan pihak penguasa. Pihak penguasa memiliki kecenderungan menanamkan pengaruhnya melalui kepemilikan media massa. Jalaluddin Rakhmat (2000:7), citra seseorang membantu dalam pemahaman, penilaian, pengidentifikasian peristiwa, gagasan, tujuan, atau pemimpin politik. Pencitraan bagi penguasa/pihak yang memiliki kepentingan tertentu merupakan hal yang sangat penting dalam menghimpun simpati massa. Menurut Mead (Jalaluddin Rakhmat, 2000) pada dasarnya perspektif media merupakan perspektif yang menaruh perhatian pada aspek komunikasi dari belajar menekankan sifat aktif, bukan reaktif dalam proses itu. Maksudnya bahwa manusia tidak hanya menanggapi secara langsung tindakan orang lain, melainkan menanggapi apa yang mereka percaya sebagai maksud orang lain, nilai mereka tentang maksud, dan apa yang mereka harapkan di kemudian hari.
Media yang ditumpangi kekuatan penguasa tertentu ini menggunakan propaganda politik sebagai sasarannya. Lasswell (dalam Hafied Cangara, 2009) menyatakan bahwa propaganda adalah suatu kegiatan komunikasi yang erat kaitannya dengan persuasi yang membawa masyarakat dalam situsi kebingungan, ragu-ragu, dan terpaku pada sesuatu yang tampak menipu dan menjatuhkan.
Propaganda ini dilakukan dalam berbagai bentuk diantaranya yakni kampanye. McGniss dalam bukunya The Selling Of President (dalam Hafied Cangara, 2009) menyebutkan bahwa media massa utamanya televisi memiliki peran yang menentukan dalam pembentukan citra kandidat. Weaver bahkan menyatakan bahwa media memainkan peranan besar dalam menjadikan sejumlah kandidat dengan sifat-sifat tertentu yang lebih menonjol dibanding kandidat lainnya. Contoh riil-ya di Indonesia yakni melalui kampanye iklan yang gencar dan aktif, Partai Nasional Demokrat yang merupakan partai baru, popularitasnya menjadi meningkat serta ratingnya tinggi. Begitu pula SBY berhasil memenangkan pemilu presiden meskipun dimotori oleh partai baru juga tak lepas dari iklan dan jargon yang gencar disebarluaskan di televisi.
Sebagai salah satu media massa, televisi bersifat netral namun dari siaran-siarannya tidak karena bergantung pada orientasi, visi, dan misi penguasa yang ada di belakangnya. Misalkan seperti Metro TV milik Surya Paloh yang gencar memberitakan tentang kebaikan dan berbagai aksi Golkar, TV One milik Aburizal Bakrie yang lebih gencar mempromosikan Nasional Demokrat (Nasdem). Hal ini menunjukkan bahwa keberadaan televisi sebagai media netral menjadi berpihak pada salah satu kubu, sehingga fungsi netral media menjadi bergeser.

Komersialisasi media massa menjadikan media itu hanyalah untuk merauk keuntungan, tanpa memikirkan dampak dari komersialisasi itu sendiri. Banyaknya pengusaha yang menguasai media, membuat media menjadi apa yang diinginkan oleh pemilik media tersebut, dan independensi mereka patut di pertanyakan. Kecenderungan pengusaha yang hanya menginginkan keuntungan, sangat mempengaruhi peran dari media itu sendiri, dari tujuan awalnya suatu media adalah menyampaikan berita dengan sejelas-jelasnya, dari sudut pandang yang objektif tanpa menyudutkan maupun memihak salah satu golongan, dan berdasarkan fakta yang terjadi dilapangan. Tetapi, dasar dari tujuan tersebut mulai dikebiri dengan dikorsialisasikannya media oleh pemilik media massa elektronik yang bersangkutan, yang beranggapan bahwa media massa elektronik hanyalah sebuah barang atau benda yang dapat diperjual belikan untuk mendapat keuntungan sebesar-besarnya, tanpa menghiraukan kaidah-kaidah dari media massa tersebut.
BAB III
PENUTUP
A.  KESIMPULAN
Dinamisasi kehidupan yang selalu berubah dan berkembang ke arah yang lebih maju telah menempatkan media sebagai sebuah kebutuhan yang tak dapat dielakkan lagi. Kepentingan kapital pun turut memotori pergerakan berbagai elemen kehidupan berbangsa dan bernegara termasuk dalam kenetralan media massa. Begitu pula yang terjadi pada televisi saat ini, dengan ditumpangi berbagai kepentingan kapitalisme, media netral ini mengalami berbagai perubahan mendasar dalam penyiarannya sebagai media edukatif dan informatif. Sisi komersialitas pun ditonjolkan dalam berbagai bentuk yang merupakan kewenangan mutlak dari pengelola stasiun televisi tersebut. Akibatnya keberadaan televisi dalam menjalankan fungsi awalnya menjadi bergeser ke fungsi komersiil dan mengesampingkan dampak yang ditimbulkan terhadap khalayak umum.

B.  SARAN
Kepada Pengelola Stasiun televisi agar lebih memperbaiki kualitas tayangannya disamping mengejar komersialisasi dan keuntungan semata, agar fungsi awal dari media televisi sebagai media netral dan edukatif dapat tetap terjaga kelangsungannya. Kepada khalayak agar lebih subjektif memilih dan menyeleksi tayangan yang baik sehingga dapat memberikan kemanfaatan dan menyikapi dengan bijaksana tayangan dari media televisi, serta meminimalisir dampak negatif yang diakibatkan oleh televisi.






DAFTAR PUSTAKA
Artikata.com. 2012, http://www.artikata.com/arti-335787-komersialisasi.html, diakses pada tanggal 15 Mei 2012.
Bagus, L. 1996. Kamus Filsafat. Jakarta : Gramedia.
Cangaro, H. 2009. Komunikasi Politik konsep, teori, strategi. Jakarta: PT.RajaGrafindo Persada.
Davis, H dan Paul Walton. 2010. Bahasa,Citra, Media. Yogyakarta : Jalasutra.
Ebenstein, W. 1990. Isme-Isme Dewasa Ini, (terjemahan). Jakarta : Erlangga.
Effendy, H. 2008. Industri Pertelevisian Indonesia. Jakarta: Erlangga.
Hayek, F.A. 1978. The Prinsiples of A Liberal Social Order, dalam Anthony de Crespigny and Jeremy Cronin, Ideologies of Politics. London : Oxford University Press.
http://id.wikipedia.org/wiki/Televisi
McQuail, D. 1994. Teori Komunikasi Massa Suatu Pengantar. Jakarta: Erlangga.
Mulyana, D. 2007. Ilmu Komunikasi Suatu Pengantar. Bandung: Remaja Rosdakarya.
Rakhmat, J. 2000. KOMUNIKASI POLITIK Khalayak dan Efek. Bandung: PT. Remaja Rosdakarya.
Rand, A. 1970. Capitalism: The Unknown Ideal. New York : A Signet Book.
Sardar, Z dan Boris Van Loon. 2008. Membongkar Kuasa Media. Yogyakarta : Resist Book.
Sendjaja,SD. 2002. Teori Komunikasi. Jakarta: Pusat Penerbit Universitas Terbuka.
Shvoong.com. 29 Agustus 2011. Pengertian Media Massa, http://id.shvoong.com/social-sciences/sociology/2206295-pengertian-media-massa/#ixzz1uvearo3U diakses pada tanggal 15 Mei 2012.
Wirowidono, S. 2006. Matikan TV-Mu, Teror Media Televisi di Indonesia, Yogyakarta : Resist Book.