Rabu, 20 November 2013

Kepada Dia


19 November 2013, 21:38
Dia yang hanya bisa menyimpan rindunya sebatas air muka
Tak sempat membisik liar pada angin sang gita
Dia yang tak sempat beranjak dan berteriak lantang
tentang yang sudah menghujam dan menyayat hati
Dia yang tidak bisa bertutur
Bahkan kepada dirinya sendiri
Yang tidak mampu mengartikulasikan rindu sebening embun pagi

Dia...Untuk dan Kepada Dia yang dituju
Sepotong rindu atau entah hanya seberkas memori yang menggeliat keluar
Dia kepada Dia yang tidak mampu terungkapkan
Entah apa yang dirasa
Tetapi dia memiliki ‘banyak’ yang tak terungkapkan
Kepada Dia...

Jumat, 08 November 2013

God Teaches Me

Sebelumnya semuanya baik-baik saja. Saya yang panickable (red-mudah panik), straight to the point, dan tidak suka pekerjaan yang ditunda-tunda. Tidak apa-apa dan semuanya baik-baik saja. Sampai saya berada dalam satu posisi dimana saya harus bertanggung jawab, harus merangkul, dan menampung semua aspirasi. Terpikir dalam mindset saya adalah 'Saya harus wise' harus bisa bijak dalam segala hal, tempatkan diri dalam posisi yang benar, posisi yang merendah tapi bukan untuk direndahkan tetapi juga posisi yang tinggi bukan untuk dihormati tapi untuk mengayomi. Saya harus begitu, being a good leader. Tetapi ketika banyak sekali kondisi yang menekan saya disana-sini, ya seperti gas didalam balon yang sempit pasti akan meledak kan? That's how Iam, dan itu sangat manusiawi. Meskipun kadar dan cara meledak itu berbeda-beda. Saya bukan orang yang cenderung menahan, ketika benar-benar banyak yang harus ditampung dan itu diluar kapasitas saya, mungkin saya akan membahayakan orang disekitar saya. Dan saya sadar tidak semua orang bisa menerima ledakan. Tidak semua orang. Lets say, saya selalu dikelilingi orang-orang sabar ataupun orang-orang yang kadar ignorant-nya tinggi untuk ledakan saya, tanpa saya sadari ada pula orang yang sensitif dan tidak mengenal saya dengan baik. Terlepas dari good will apapun dibaliknya, sensitif person tidak akan berpikir sejauh itu, karena mereka terlalu sibuk untuk mengawasi rasa sakitnya (saya juga mengalaminya). Dan saya menghiraukan hal itu. Mungkin seperti sebuah tamparan keras bagi saya. Dan saya cenderung merasa gagal. Gagal menafsirkan kondisi untuk memberikan feedback yang sesuai. Gagal mengayomi dan mengapresiasi.
Lagi-lagi Tuhan menjawab pertanyaan saya beberapa waktu terakhir, kenapa saya sering sekali meledak, kenapa? dan saya harus bagaimana untuk mengatasinya? Melalui scene secara langsung memang lebih efektif dibanding sebuah petuah. That's how God teaches me to be more patient. Untuk tidak menjadi ignorant, untuk menjadi lebih baik. Setidaknya menjadi lebih baik dari kemarin, bahwa saya pernah salah. Dan Tuhan mengajarkan bagaimana sakitnya orang yang salah. Seems lost her own way.
Thanks Rabb.
And for whoever (I've been made him/her mad) sorry for all of the disturbance I made