“Siapa
yang bisa memilih takdir mereka? Terlahir di keluarga bahagia, kaya raya,
kelompok marginal atau menjadi seorang yatim piatu. There is no one can choose
it. And also me.”
Ketika banyak hal, masalah, not young matters I mean,
saya selalu berpikir kenapa harus saya, kenapa harus dia, kenapa harus mereka
yang ditunjuk Tuhan untuk menjalani skenario itu. Why? Tetapi saya belum
berhasil menemukan jawabannya. Berbeda ketika skenario yang berbunga itu kita
dapatkan, kita tidak akan bertanya kenapa saya harus mendapat scene bahagia? We’ll
not ask God about such question.
Saya juga masih belum mendapat jawaban ketika pertanyaan
untuk kondisi itu tidak muncul, kemudian banyak sekali hal-hal berdatangan yang
membuat saya membuka mata saya. Banyak sekali yang membuat saya jealous of. Dan kemudian muncul lagi
pertanyaan, “Why God gives them so many
happiness, while I’m not? Why aren’t they grateful?”
Lagi-lagi saya bertanya, kenapa Tuhan memilihkan takdir yang
berbeda-beda untuk setiap umat-Nya? Kenapa kadar ujian yang diberikan juga
berbeda serta cara melewati atau mensyukuri juga berbeda? Layaknya ujian,
ketika saya melihat soal saya lalu melihat soal lainnya, saya merasa saya sudah
berada pada level yang tinggi dengan tingkat kesulitan yang sangat rumit.
Sementara saya melihat soal ujian mereka biasa, tidak memerlukan pemikiran
keras otak dan keikhlasan luar biasa dari hati. Iam arrogant. Arrogant for
having complicated matters.
Kemudian, “Why God
chooses me for finishing this exam? Why should I? Why mustn’t them?”
...
Kemudian saya membuka pandangan saya jauh lebih lebar dari
sebelumnya, saya membuka hati saya jauh lebih lapang dari sebelumnya. Saya
bertanya lebih tulus dari sebelumnya. Saya berdoa lebih khusyuk dari
sebelumnya. Dan saya menemukan jawabannya.
“Bukan
hanya saya yang dipilihkan soal sulit, banyak sekali jutaan umat-Nya mendapat
soal serupa bahkan lebih luar biasa sulit”
-
“Saya
masih bisa tertawa bersama teman sebaya saya dibawah atap yang kokoh dan
dinding yang tegap, sementara banyak lainnya yang beratap langit gelap dan berteman
angin malam”
-
“Saya
masih bisa bermain-main ketika banyak seusia saya yang harus berjuang keras
menanggung hidupnya”
-
“Saya
masih bisa duduk manis mendengarkan dosen bercerita ketika banyak jutaan anak
dibawah umur putus pengharapannya akan ilmu”
What else could be matters beside matters itselves. Saya
belajar memaknai setiap hal yang Tuhan ijinkan saya untuk melewatinya. Kunci
jawaban dari semua soal sulit itu ada di dalam diri kita. Berhenti melihat
soalnya dan mulai mengerjakannya atau tetap meratap menangisinya. Saya memilih
yang pertama.
God always teaches us how to survive and deals with our
matters. Kamu hanya perlu bertanya dan menjalaninya. Hiduplah di jalan-Nya, you’ll
find your path easier
nice job, dear,. :)
BalasHapuskayak pohon beringin noh, makin kuat angin menerpa, semakin kuat beringin menancapkan akar-akarnya.
BalasHapuskadang jalan syukur itu baru terlihat ketika kita ditimpa cobaan. :D
yang jelas sabar dan syukur ketika cobaan dari-Nya datang.. :)
BalasHapusMbak Putri thanks :)
BalasHapusRizky well you do too yah :)
Neng Fitri you should do too dear :)