Kamis, 30 Juni 2016

Safari Ramadhan Ala Pusdiklat PT. PLN (Persero)

Ada yang berbeda sore itu di Museum Listrik Taman Mini Indonesia (Kamis, 30/6). Lantunan ayat suci Al-Qur’an mengalun dengan indah, kursi-kursi berjajar rapi dihiasi hidangan berbuka puasa yang menggugah selera. Gelaran safari ramadhan lah yang sedang diadakan senja itu oleh Pusdiklat PT. PLN (Persero).

Dalam acara bertajuk “Ramadhan Bulan Pendidikan Membentuk Pribadi yang Profesional”, PLN mengadakan buka bersama anak yatim disertai pemberian santunan. Acara dimulai pukul 16.30, dan dibuka oleh penampilan marawis dari Lubang buaya serta penampilan musik dari siswa prajabatan angkatan 52 & 53 Udiklat Bogor. 

Wisnu Satrijono selaku General Manager Pusdiklat PLN pun turut hadir memberikan apresiasi atas penyelenggaraan safari ramadhan tersebut. Menjelang berbuka puasa acara dilanjutkan dengan penyerahan bantuan kepada anak yatim yang hadir, siraman rohani oleh Ustadz Nurul Zainul Fuad, dan berbuka puasa bersama.


Memaknai ramadhan dengan berbagi, khususnya dalam bidang pendidikan merupakan misi yang ingin disampaikan Pusdiklat PT. PLN kepada publik. Berbagi kepada kader penerus bangsa, tak hanya merupakan bentuk tanggung jawab sosial perusahaan melainkan suatu kewajiban yang harus dijalankan secara terus menerus.


Rabu, 29 Juni 2016

Memaknai Berbagi

PLN Tebar Kebaikan di Bulan Penuh Berkah

Ramadhan, bulan penuh berkah yang banyak dimanfaatkan untuk berbagi. Sama halnya dengan PT. PLN (Persero) Wilayah Nusa Tenggara Timur yang menggelar Buka Puasa Bersama dan pemberian santunan kepada anak yatim dan dhuafa, Selasa (28/6).


Buka puasa bersama yang diadakan di Lapangan Tennis Kantor PLN wilayah  NTT diikuti oleh seluruh pegawai, anak yatim, dan kaum dhuafa. Mengusung tema “Berbagi Lebih Bermakna”, PLN NTT menyerahkan serangkaian bantuan 500 paket sembako ke masyarakat yang tidak mampu di sekitar Kupang sebesar Rp. 87.500.000, bantuan untuk Masjid Al Ikhlas PLTD Tenau sebesar Rp. 15.000.000, santunan anak yatim sebesar 10.000.000 dan bantuan untuk Pura BTN Kolhua 15.000.000.
“Selain memperingati bulan Ramadhan, acara berbagi bantuan ini merupakan ajang berbagi kebahagiaan yang bertepatan dengan HUT PLN NTT ke-14,” ungkap General Manager PT PLN (Persero), Richard Safkaur.

Acara dimulai dengan penyerahan kado lebaran untuk 60 keluarga dhuafa senilai 9.000.000, peduli 1000 guru TPQ, dan bantuan Tebar Quran. Lebih lanjut, Richard Safkaur memaparkan bahwa acara ini juga dimaksudkan sebagai bentuk tanggung jawab sosial perusahaan kepada masyarakat NTT. 

Selasa, 28 Juni 2016

Jaga Stabilitas Listrik Sudah Kewajiban, Ubah Mindset Itu Kemajuan! #HumasPLNProject

By : Maulana Ocky A.


Proyek 35.000 megawatt yang dicanangkan pemerintah untuk mengembangkan negeri sudah sampai mana ? apakah sudah terlaksana ? lalu jika sudah terlaksana, mau dikemanakan listrik itu ?
Beberapa pertanyaan tersebut selalu mendera PLN setiap kali dihadapkan pada masalah pengerjaan proyek 35.000 megawatt. Bagi beberapa orang awam pastilah tidak terlalu intens menanyakan hal tersebut. Mereka (kita) hanya akan ingat PLN jika terjadi pemadaman listrik di rumah atau dikantor kita, bahkan di kapal laut sekalipun (?)

Ketika dilihat lebih dalam lagi, bukan hendak membela, tapi ya keberhasilan PLN sudah banyak, Cuma gara-gara sering pemadaman PLN lebih banyak dihujat daripada dipuji. Mengenai proyek 35.000 megawatt misalnya, sudah banyak proyek pembangkit yang sudah siap beroperasi dan bahkan sudah beroperasi. Oleh karenanya, fokus PLN saat ini bukan hanya menjaga stabilitas suplai listrik tetapi juga bagaimana cara kita mensosialisasikan dan membangun pasar yang kondusif dari hasil proyek tersebut.

Ditemui di sela kegiatan pembagian zakat PT.PLN di Ciracas, Saslizar, manajer area Meulaboh yang baru saja dipercaya mengendalikan area Ciracas menerangkan pentingnya ubah mindset PLN. Sudah merupakan kewajiban PLN untuk menyediakan listrik kepada masyarakat tapi demi kemajuan perusahaan, kita harus ubah mindset ke arah bagaimana memasarkan hasil proyek sehingga terbentuk citra perusahaan yang baru yang lebih baik.

Sejauh mana proyek 35.000 megawatt itu sudah berhasil dijalankan dan bagaimana imbasnya ke masyarakat?
Sejauh ini proyek pembangunan berjalan lancar tahap demi tahap. Sesuai porsinya, target tahun ini sudah diagendakan direksi dan kami sudah terima. Saat ini, menyediakan listrik yang stabil sudah merupakan kewajiban PLN sebagai penyedia utama listrik di negara ini. Namun mau sebanyak apapun pembangkit kalau nanti hasilnya tidak mampu kita jual ke masyarakat, itu juga tidak bagus. Maka dari itu, untuk lebih memperluas manfaat kepada masyarakat kita juga perlu memikirkan bagaimana nantinya listrik yang kita hasilkan bisa dipasarkan kepada masyarakat sehingga berguna dan tidak mubadzir.

Apa yang seharusnya diperhatikan lebih dari proyek tersebut ?
Sebagian proyek pembangkit sudah siap beroperasi, hanya saja kita perlu siapkan pasar untuk produk listrik kita. Perlu ada perubahan mindset kita yang semula hanya berusaha menjaga suplai listrik yang optimal menjadi lebih maju ke depan khususnya dalam hal memasarkan produk kita. Inovasi kita tidak hanya terfokus pada masalah teknis saja, namun inovasi dalam hal penjualan dan pelayanan kepada pelanggan juga perlu dibenahi.

Apa kaitan mengubah mindset dengan kemajuan PLN ?

Seperti yang ditekankan oleh pak Sofyan Basir, kita PLN jangan hanya mengurusi hal-hal teknis mengenai kelistrikan. PLN juga harus mengintegrasikan segala aspek dalam perusahaan demi kemajuan. Jika selama ini pasokan listrik sudah sering dibenahi, maka sekaranglah saatnya berbenah di bidang pelayanan. Mengubah mindset ini vital mengingat proyek 35.000 megawatt ini ditarget 2019 selesai dan kita masih dihadapkan pada anggapan buruk masyarakat. Sederhana saja, mau semaju apapun kita jika dipelayanan kepada pelanggan masih belum optimal, maka anggapan negatif masyarakat akan tetap ada. Maka dari itu, mari ubah mindset kita menjadi pelayan masyarakat, berorientasi membangun relasi positif dan berpikir visioner ke depan demi pemanfaatan listrik yang lebih efektif dan efisien. Sesuaikan dengan visi dan misi PLN, Insha Allah PLN akan jaya di masa depan. 
Proyek 35.000 megawatt yang dicanangkan pemerintah untuk mengembangkan negeri sudah sampai mana ? apakah sudah terlaksana ? lalu jika sudah terlaksana, mau dikemanakan listrik itu ? Beberapa pertanyaan tersebut selalu mendera PLN setiap kali dihadapkan pada masalah pengerjaan proyek 35.000 megawatt. Bagi beberapa orang awam pastilah tidak terlalu intens menanyakan hal tersebut. Mereka (kita) hanya akan ingat PLN jika terjadi pemadaman listrik di rumah atau dikantor kita, bahkan di kapal laut sekalipun (?) Ketika dilihat lebih dalam lagi, bukan hendak membela, tapi ya keberhasilan PLN sudah banyak, Cuma gara-gara sering pemadaman PLN lebih banyak dihujat daripada dipuji. Mengenai proyek 35.000 megawatt misalnya, sudah banyak proyek pembangkit yang sudah siap beroperasi dan bahkan sudah beroperasi. Oleh karenanya, fokus PLN saat ini bukan hanya menjaga stabilitas suplai listrik tetapi juga bagaimana cara kita mensosialisasikan dan membangun pasar yang kondusif dari hasil proyek tersebut. Ditemui di sela kegiatan pembagian zakat PT.PLN di Ciracas, Saslizar, manajer area Meulaboh yang baru saja dipercaya mengendalikan area Ciracas menerangkan pentingnya ubah mindsetPLN. Sudah merupakan kewajiban PLN untuk menyediakan listrik kepada masyarakat tapi demi kemajuan perusahaan, kita harus ubah mindset ke arah bagaimana memasarkan hasil proyek sehingga terbentuk citra perusahaan yang baru yang lebih baik. Sejauh mana proyek 35.000 megawatt itu sudah berhasil dijalankan dan bagaimana imbasnya ke masyarakat? Sejauh ini proyek pembangunan berjalan lancar tahap demi tahap. Sesuai porsinya, target tahun ini sudah diagendakan direksi dan kami sudah terima. Saat ini, menyediakan listrik yang stabil sudah merupakan kewajiban PLN sebagai penyedia utama listrik di negara ini. Namun mau sebanyak apapun pembangkit kalau nanti hasilnya tidak mampu kita jual ke masyarakat, itu juga tidak bagus. Maka dari itu, untuk lebih memperluas manfaat kepada masyarakat kita juga perlu memikirkan bagaimana nantinya listrik yang kita hasilkan bisa dipasarkan kepada masyarakat sehingga berguna dan tidak mubadzir. Apa yang seharusnya diperhatikan lebih dari proyek tersebut ? Sebagian proyek pembangkit sudah siap beroperasi, hanya saja kita perlu siapkan pasar untuk produk listrik kita. Perlu ada perubahan mindset kita yang semula hanya berusaha menjaga suplai listrik yang optimal menjadi lebih maju ke depan khususnya dalam hal memasarkan produk kita. Inovasi kita tidak hanya terfokus pada masalah teknis saja, namun inovasi dalam hal penjualan dan pelayanan kepada pelanggan juga perlu dibenahi. Apa kaitan mengubah mindset dengan kemajuan PLN ? Seperti yang ditekankan oleh pak Sofyan Basir, kita PLN jangan hanya mengurusi hal-hal teknis mengenai kelistrikan. PLN juga harus mengintegrasikan segala aspek dalam perusahaan demi kemajuan. Jika selama ini pasokan listrik sudah sering dibenahi, maka sekaranglah saatnya berbenah di bidang pelayanan. Mengubah mindset ini vital mengingat proyek 35.000 megawatt ini ditarget 2019 selesai dan kita masih dihadapkan pada anggapan buruk masyarakat. Sederhana saja, mau semaju apapun kita jika dipelayanan kepada pelanggan masih belum optimal, maka anggapan negatif masyarakat akan tetap ada. Maka dari itu, mari ubah mindset kita menjadi pelayan masyarakat, berorientasi membangun relasi positif dan berpikir visioner ke depan demi pemanfaatan listrik yang lebih efektif dan efisien. Sesuaikan dengan visi dan misi PLN, Insha Allah PLN akan jaya di masa depan.

Selengkapnya : http://www.kompasiana.com/ockyadhicondro/jaga-stabilitas-listrik-sudah-kewajiban-ubah-mindset-itu-kemajuan_57732b7007b0bde604c94f6a
Proyek 35.000 megawatt yang dicanangkan pemerintah untuk mengembangkan negeri sudah sampai mana ? apakah sudah terlaksana ? lalu jika sudah terlaksana, mau dikemanakan listrik itu ? Beberapa pertanyaan tersebut selalu mendera PLN setiap kali dihadapkan pada masalah pengerjaan proyek 35.000 megawatt. Bagi beberapa orang awam pastilah tidak terlalu intens menanyakan hal tersebut. Mereka (kita) hanya akan ingat PLN jika terjadi pemadaman listrik di rumah atau dikantor kita, bahkan di kapal laut sekalipun (?) Ketika dilihat lebih dalam lagi, bukan hendak membela, tapi ya keberhasilan PLN sudah banyak, Cuma gara-gara sering pemadaman PLN lebih banyak dihujat daripada dipuji. Mengenai proyek 35.000 megawatt misalnya, sudah banyak proyek pembangkit yang sudah siap beroperasi dan bahkan sudah beroperasi. Oleh karenanya, fokus PLN saat ini bukan hanya menjaga stabilitas suplai listrik tetapi juga bagaimana cara kita mensosialisasikan dan membangun pasar yang kondusif dari hasil proyek tersebut. Ditemui di sela kegiatan pembagian zakat PT.PLN di Ciracas, Saslizar, manajer area Meulaboh yang baru saja dipercaya mengendalikan area Ciracas menerangkan pentingnya ubah mindsetPLN. Sudah merupakan kewajiban PLN untuk menyediakan listrik kepada masyarakat tapi demi kemajuan perusahaan, kita harus ubah mindset ke arah bagaimana memasarkan hasil proyek sehingga terbentuk citra perusahaan yang baru yang lebih baik. Sejauh mana proyek 35.000 megawatt itu sudah berhasil dijalankan dan bagaimana imbasnya ke masyarakat? Sejauh ini proyek pembangunan berjalan lancar tahap demi tahap. Sesuai porsinya, target tahun ini sudah diagendakan direksi dan kami sudah terima. Saat ini, menyediakan listrik yang stabil sudah merupakan kewajiban PLN sebagai penyedia utama listrik di negara ini. Namun mau sebanyak apapun pembangkit kalau nanti hasilnya tidak mampu kita jual ke masyarakat, itu juga tidak bagus. Maka dari itu, untuk lebih memperluas manfaat kepada masyarakat kita juga perlu memikirkan bagaimana nantinya listrik yang kita hasilkan bisa dipasarkan kepada masyarakat sehingga berguna dan tidak mubadzir. Apa yang seharusnya diperhatikan lebih dari proyek tersebut ? Sebagian proyek pembangkit sudah siap beroperasi, hanya saja kita perlu siapkan pasar untuk produk listrik kita. Perlu ada perubahan mindset kita yang semula hanya berusaha menjaga suplai listrik yang optimal menjadi lebih maju ke depan khususnya dalam hal memasarkan produk kita. Inovasi kita tidak hanya terfokus pada masalah teknis saja, namun inovasi dalam hal penjualan dan pelayanan kepada pelanggan juga perlu dibenahi. Apa kaitan mengubah mindset dengan kemajuan PLN ? Seperti yang ditekankan oleh pak Sofyan Basir, kita PLN jangan hanya mengurusi hal-hal teknis mengenai kelistrikan. PLN juga harus mengintegrasikan segala aspek dalam perusahaan demi kemajuan. Jika selama ini pasokan listrik sudah sering dibenahi, maka sekaranglah saatnya berbenah di bidang pelayanan. Mengubah mindset ini vital mengingat proyek 35.000 megawatt ini ditarget 2019 selesai dan kita masih dihadapkan pada anggapan buruk masyarakat. Sederhana saja, mau semaju apapun kita jika dipelayanan kepada pelanggan masih belum optimal, maka anggapan negatif masyarakat akan tetap ada. Maka dari itu, mari ubah mindset kita menjadi pelayan masyarakat, berorientasi membangun relasi positif dan berpikir visioner ke depan demi pemanfaatan listrik yang lebih efektif dan efisien. Sesuaikan dengan visi dan misi PLN, Insha Allah PLN akan jaya di masa depan.

Selengkapnya : http://www.kompasiana.com/ockyadhicondro/jaga-stabilitas-listrik-sudah-kewajiban-ubah-mindset-itu-kemajuan_57732b7007b0bde604c94f6a
Proyek 35.000 megawatt yang dicanangkan pemerintah untuk mengembangkan negeri sudah sampai mana ? apakah sudah terlaksana ? lalu jika sudah terlaksana, mau dikemanakan listrik itu ? Beberapa pertanyaan tersebut selalu mendera PLN setiap kali dihadapkan pada masalah pengerjaan proyek 35.000 megawatt. Bagi beberapa orang awam pastilah tidak terlalu intens menanyakan hal tersebut. Mereka (kita) hanya akan ingat PLN jika terjadi pemadaman listrik di rumah atau dikantor kita, bahkan di kapal laut sekalipun (?) Ketika dilihat lebih dalam lagi, bukan hendak membela, tapi ya keberhasilan PLN sudah banyak, Cuma gara-gara sering pemadaman PLN lebih banyak dihujat daripada dipuji. Mengenai proyek 35.000 megawatt misalnya, sudah banyak proyek pembangkit yang sudah siap beroperasi dan bahkan sudah beroperasi. Oleh karenanya, fokus PLN saat ini bukan hanya menjaga stabilitas suplai listrik tetapi juga bagaimana cara kita mensosialisasikan dan membangun pasar yang kondusif dari hasil proyek tersebut. Ditemui di sela kegiatan pembagian zakat PT.PLN di Ciracas, Saslizar, manajer area Meulaboh yang baru saja dipercaya mengendalikan area Ciracas menerangkan pentingnya ubah mindsetPLN. Sudah merupakan kewajiban PLN untuk menyediakan listrik kepada masyarakat tapi demi kemajuan perusahaan, kita harus ubah mindset ke arah bagaimana memasarkan hasil proyek sehingga terbentuk citra perusahaan yang baru yang lebih baik. Sejauh mana proyek 35.000 megawatt itu sudah berhasil dijalankan dan bagaimana imbasnya ke masyarakat? Sejauh ini proyek pembangunan berjalan lancar tahap demi tahap. Sesuai porsinya, target tahun ini sudah diagendakan direksi dan kami sudah terima. Saat ini, menyediakan listrik yang stabil sudah merupakan kewajiban PLN sebagai penyedia utama listrik di negara ini. Namun mau sebanyak apapun pembangkit kalau nanti hasilnya tidak mampu kita jual ke masyarakat, itu juga tidak bagus. Maka dari itu, untuk lebih memperluas manfaat kepada masyarakat kita juga perlu memikirkan bagaimana nantinya listrik yang kita hasilkan bisa dipasarkan kepada masyarakat sehingga berguna dan tidak mubadzir. Apa yang seharusnya diperhatikan lebih dari proyek tersebut ? Sebagian proyek pembangkit sudah siap beroperasi, hanya saja kita perlu siapkan pasar untuk produk listrik kita. Perlu ada perubahan mindset kita yang semula hanya berusaha menjaga suplai listrik yang optimal menjadi lebih maju ke depan khususnya dalam hal memasarkan produk kita. Inovasi kita tidak hanya terfokus pada masalah teknis saja, namun inovasi dalam hal penjualan dan pelayanan kepada pelanggan juga perlu dibenahi. Apa kaitan mengubah mindset dengan kemajuan PLN ? Seperti yang ditekankan oleh pak Sofyan Basir, kita PLN jangan hanya mengurusi hal-hal teknis mengenai kelistrikan. PLN juga harus mengintegrasikan segala aspek dalam perusahaan demi kemajuan. Jika selama ini pasokan listrik sudah sering dibenahi, maka sekaranglah saatnya berbenah di bidang pelayanan. Mengubah mindset ini vital mengingat proyek 35.000 megawatt ini ditarget 2019 selesai dan kita masih dihadapkan pada anggapan buruk masyarakat. Sederhana saja, mau semaju apapun kita jika dipelayanan kepada pelanggan masih belum optimal, maka anggapan negatif masyarakat akan tetap ada. Maka dari itu, mari ubah mindset kita menjadi pelayan masyarakat, berorientasi membangun relasi positif dan berpikir visioner ke depan demi pemanfaatan listrik yang lebih efektif dan efisien. Sesuaikan dengan visi dan misi PLN, Insha Allah PLN akan jaya di masa depan.

Selengkapnya : http://www.kompasiana.com/ockyadhicondro/jaga-stabilitas-listrik-sudah-kewajiban-ubah-mindset-itu-kemajuan_57732b7007b0bde604c94f6a

Selengkapnya : http://www.kompasiana.com/ockyadhicondro/jaga-stabilitas-listrik-sudah-kewajiban-ubah-mindset-itu-kemajuan_57732b7007b0bde604c94f6a

Perkembangan Proyek 35000 MW #HumasPLNProject


Senin, 27 Juni 2016

Segarnya Buka Puasa Bersama PLN


Matahari sore itu bersinar terang menghiasi hamparan langit biru nan cerah. Sayup-sayup terdengar tawa riang dari derap kaki-kaki kecil memasuki jalanan Udiklat Bogor. Mereka adalah anak-anak kurang beruntung yang diundang oleh siswa prajabatan PLN Angkatan 51.

Acara yang berlangsung pada tanggal 22 Juni 2016 itu dihadiri 100 anak yatim, 36 pegawai dan 86 orang pihak ketiga serta siswa prajabatan angkatan 52 dan 53. Serangkaian acara mulai dari pembukaan, buka puasa bersama hingga acara puncak yakni pemberian santunan yang diwakili oleh Manajer Udiklat Bogor, Novihadi. Antusiasme nampak jelas terlihat dari raut wajah anak-anak yang hadir. Mulai dari pembukaan hingga selesai, mereka duduk tenang memperhatikan jalannya acara.


Upaya ini merupakan bentuk tanggung jawab sosial sekaligus acara pelepasan siswa angkatan 51 terhadap lingkungan RW.06 Cibogo, Bogor. Pada kesempatan tersebut Novihadi juga mengapresiasi para siswa prajabatan angkatan 51. “Saya terharu karena biasanya acara buka bersama dan santunan itu dilakukan oleh karyawan, namun sekarang siswa PLN mampu melaksanakannya,” tutur Novihadi.