11th of July, 2014
Iam blogging
again now, after a long time I dump every thoughts that will be interpreted in
some words. Iam sincerely, desperately wanna write. Here Iam, make a comeback
after long time disappeared.
The reason?
Why would Iam
blogging again? You know ‘scribo ergo sum’? that means, aku menulis maka aku ada. That’s overall the reason, because I
don’t wanna disappear like a midsummer night dream or mermaid that disappear
like a froth. Let me at least be remembered by my words.
Why never blogging?
Aku sempat
berpikir mau nerusin di blog ini, atau ngisi tumblr yang mangkrak gak pernah
diisi. Tapi akhirnya, aku lebih milih mengisi yang sudah ada ketimbang memulai
dari awal, hehehe. Tahu kenapa gak pernah nge-blog? Indonesia bagian Fatmadita
Pangesti is so much chaos, because of nyimak berita pilpres dan segala black
campaign-nya, ngurusin event yang udah kelar, sampe right now harus ribet
magang. Berangkat dari pagi pulang sore bangeeet. When would I have time for
blogging?
What you gonna write, right now?
Actually, aku
pengen nulis tentang gender nih. Tapi aku bener-bener nggak ada fresh time buat
nulis ide-ide yang bermunculan di pikiranku. But, today I wanna write a story.
About?
Not sad story
actually.
“What
do you think about something that you think it’s over but actually it’s not
over yet? Is it burdensome? Is it annoying? It depends on time, ketika dalam
jangka waktu yang sebentar itu akan membuatmu berpikir sepanjang waktu, tetapi
ketika perlahan waktu mulai berlari mungkin hanya kejanggalan yang tersisa.
Semacam sisa makanan yang tidak bisa tercerna dengan sempurna, yang akhirnya
menjadi racun bagi tubuh. Ibarat kasus pidana sudah di peti kemaskan pabila
waktunya sudah terlalu lama, tapi kalau untuk sebuah cerita tidak ada
kadaluarsa bagi saya, mungkin hanya sedikit usang. Pernah mendengar novel karya
Marah Rusli yang berjudul ‘Memang Jodoh’? karya itu dipendam selama 50 tahun
sebelum akhirnya diterbitkan, mungkin usang tapi ialah sesuatu yang belum
berakhir dan menuntut untuk dituntaskan segera. Firstly, it’s been three years,
have you forgetten the memories from that time? Is it fully erased? Some people say yes, but the
others say no, I don’t know. Pun saya tidak akan mengingat semua kecuali
peristiwa yang membekas di benak dan menempel lekat di memori, dan hal tak
terselesaikan. Akan tetapi ketika yang tak terselesaikan itu memang sudah tidak
menjadi bahan kajian lagi apalah daya, karena yang tersisa hanya kejanggalan
itu sendiri. Ibarat kasus kriminal yang tak tuntas tapi pengadilan sudah enggan
mengusutnya. Lalu bagaimana? Membiarkan kejanggalan itu bercokol atau mengusutnya
sampai tuntas? Me too, truthfully have no answer. Tetapi ketika yang tak
terselesaikan itu kemudian akhirnya bertemu titik terang dan tidak ada lagi
semburat tanya, bukankah akan lebih janggal karena sesuatu yang sudah dimiliki
selama bertahun-tahun tiba-tiba hilang, iya kepemilikan akan rasa janggal.
Lengkung tanya itu perlahan-lahan akan memudar dan tak tersisa sama sekali,
purna, selesai, finish, done.
Kemudian,
bagaimana lagi saya akan membungkus rasa bernama janggal dalam wadah bernama
kesakitan. Karena isi wadah itu sudah dileburkan dalam penuntasan yang entah
itu bernama penyembuhan atau sebuah tanda titik. Kemudian, akan hilang perlahan
seperti abu sisa pembakaran. Lalu selanjutnya? Tidak ada selanjutnya, idealnya
setelah titik maka cerita itu selesai dibaca, kemudian ditutup dan sesekali
dibuka untuk pembelajaran. Kalau sekuel? Sekuel itu jika dan hanya jika cerita
diakhiri tiga titik berturutan bukan satu titik di akhir.”
So, is it all the story? Is it ended?
Yes.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar