Senin, 14 Juli 2014

Sebuah Titik

11th of July, 2014
Iam blogging again now, after a long time I dump every thoughts that will be interpreted in some words. Iam sincerely, desperately wanna write. Here Iam, make a comeback after long time disappeared.

The reason?
Why would Iam blogging again? You know ‘scribo ergo sum’? that means, aku menulis maka aku ada. That’s overall the reason, because I don’t wanna disappear like a midsummer night dream or mermaid that disappear like a froth. Let me at least be remembered by my words.

Why never blogging?
Aku sempat berpikir mau nerusin di blog ini, atau ngisi tumblr yang mangkrak gak pernah diisi. Tapi akhirnya, aku lebih milih mengisi yang sudah ada ketimbang memulai dari awal, hehehe. Tahu kenapa gak pernah nge-blog? Indonesia bagian Fatmadita Pangesti is so much chaos, because of nyimak berita pilpres dan segala black campaign-nya, ngurusin event yang udah kelar, sampe right now harus ribet magang. Berangkat dari pagi pulang sore bangeeet. When would I have time for blogging?

What you gonna write, right now?
Actually, aku pengen nulis tentang gender nih. Tapi aku bener-bener nggak ada fresh time buat nulis ide-ide yang bermunculan di pikiranku. But, today I wanna write a story.

About?
Not sad story actually.

“What do you think about something that you think it’s over but actually it’s not over yet? Is it burdensome? Is it annoying? It depends on time, ketika dalam jangka waktu yang sebentar itu akan membuatmu berpikir sepanjang waktu, tetapi ketika perlahan waktu mulai berlari mungkin hanya kejanggalan yang tersisa. Semacam sisa makanan yang tidak bisa tercerna dengan sempurna, yang akhirnya menjadi racun bagi tubuh. Ibarat kasus pidana sudah di peti kemaskan pabila waktunya sudah terlalu lama, tapi kalau untuk sebuah cerita tidak ada kadaluarsa bagi saya, mungkin hanya sedikit usang. Pernah mendengar novel karya Marah Rusli yang berjudul ‘Memang Jodoh’? karya itu dipendam selama 50 tahun sebelum akhirnya diterbitkan, mungkin usang tapi ialah sesuatu yang belum berakhir dan menuntut untuk dituntaskan segera. Firstly, it’s been three years, have you forgetten the memories from that time? Is it  fully erased? Some people say yes, but the others say no, I don’t know. Pun saya tidak akan mengingat semua kecuali peristiwa yang membekas di benak dan menempel lekat di memori, dan hal tak terselesaikan. Akan tetapi ketika yang tak terselesaikan itu memang sudah tidak menjadi bahan kajian lagi apalah daya, karena yang tersisa hanya kejanggalan itu sendiri. Ibarat kasus kriminal yang tak tuntas tapi pengadilan sudah enggan mengusutnya. Lalu bagaimana? Membiarkan kejanggalan itu bercokol atau mengusutnya sampai tuntas? Me too, truthfully have no answer. Tetapi ketika yang tak terselesaikan itu kemudian akhirnya bertemu titik terang dan tidak ada lagi semburat tanya, bukankah akan lebih janggal karena sesuatu yang sudah dimiliki selama bertahun-tahun tiba-tiba hilang, iya kepemilikan akan rasa janggal. Lengkung tanya itu perlahan-lahan akan memudar dan tak tersisa sama sekali, purna, selesai, finish, done.
Kemudian, bagaimana lagi saya akan membungkus rasa bernama janggal dalam wadah bernama kesakitan. Karena isi wadah itu sudah dileburkan dalam penuntasan yang entah itu bernama penyembuhan atau sebuah tanda titik. Kemudian, akan hilang perlahan seperti abu sisa pembakaran. Lalu selanjutnya? Tidak ada selanjutnya, idealnya setelah titik maka cerita itu selesai dibaca, kemudian ditutup dan sesekali dibuka untuk pembelajaran. Kalau sekuel? Sekuel itu jika dan hanya jika cerita diakhiri tiga titik berturutan bukan satu titik di akhir.”

So, is it all the story? Is  it ended?

Yes.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar