Senin, 22 Desember 2014

Happy Mother’s Day, Ibuk



22 Desember 2014,
Tanggal  22 ini milik seluruh ibu yang ada di dunia. Betapa tidak, setiap orang yang berstatus sebagai anak mengucapkan selamat, memeluk, mencium pipi, atau bahkan bercucuran air mata atasnya. Begitu pun seorang aku...
Selepas bangun dari tidur aku beranjak meraih hp-ku kemudian mengirim pesan singkat buat Ibuk. Kenapa tidak telfon atau bahkan bertemu langsung? Iam too shy to express my deepest feeling. Klise yaa.. Memang iya, Iam too afraid that I will end up crying like a river if I call her or say it directly. Tetapi, meskipun demikian, itu benar-benar tulus dari saya, Buk.
Then, whats mother for you?
Mom is my world, my entire wolrd, reason of struggling, reason for stand back after falling, reason for choosing this kind of path and fight to the end. Ibuk bukan orang yang akan membuatkan aku kopi ketika aku lembur, bukan juga Ibu yang selalu mengambilkan makan dan menyuapi anaknya, bukan juga seorang Ibu yang memasakkan apapun yang aku minta. Sebaliknya, Ibuk adalah orang yang sangat tegas, memarahi aku habis-habisan kalau aku memang salah. Ibuk adalah tipe ibu yang ingin anaknya berdiri di kakinya sendiri tanpa memanjakannya berlebihan. Ibarat metode reward and punishment. 
 Along this 20 years, that method works to me , Mom. Although, right now, I don’t really need reward. Right now, I just want you to be happy, healthy and be blessed. 
 Ibuk adalah orang yang bangun pagi buta untuk membuatkan aku sarapan untuk bekal sekolah atau kuliah. What would she eats, her children must eat it too. Ibuk adalah wanita yang mampu memikul semua beban di pundaknya. Semuanya. Family matters, household, her works, her children, family event, unexpected needs. She does everything. Alone. By herself. Sometimes, she talks, share, and ask me but she doesn’t really need my answer nor help. She just needs to be heard. For all of the hardships, matters, and anything, she is sooooo strong.
I admire her alot. I adore my mom alot.
Along this 20 years, terima kasih atas semuanya Ibuk. Tetap sehat, tabah, dan tetap se-luarbiasa seperti sekarang ya. Each time, each days, I’ll always try to make you happy, Mom. Thats my promise...

Senin, 14 Juli 2014

Sebuah Titik

11th of July, 2014
Iam blogging again now, after a long time I dump every thoughts that will be interpreted in some words. Iam sincerely, desperately wanna write. Here Iam, make a comeback after long time disappeared.

The reason?
Why would Iam blogging again? You know ‘scribo ergo sum’? that means, aku menulis maka aku ada. That’s overall the reason, because I don’t wanna disappear like a midsummer night dream or mermaid that disappear like a froth. Let me at least be remembered by my words.

Why never blogging?
Aku sempat berpikir mau nerusin di blog ini, atau ngisi tumblr yang mangkrak gak pernah diisi. Tapi akhirnya, aku lebih milih mengisi yang sudah ada ketimbang memulai dari awal, hehehe. Tahu kenapa gak pernah nge-blog? Indonesia bagian Fatmadita Pangesti is so much chaos, because of nyimak berita pilpres dan segala black campaign-nya, ngurusin event yang udah kelar, sampe right now harus ribet magang. Berangkat dari pagi pulang sore bangeeet. When would I have time for blogging?

What you gonna write, right now?
Actually, aku pengen nulis tentang gender nih. Tapi aku bener-bener nggak ada fresh time buat nulis ide-ide yang bermunculan di pikiranku. But, today I wanna write a story.

About?
Not sad story actually.

“What do you think about something that you think it’s over but actually it’s not over yet? Is it burdensome? Is it annoying? It depends on time, ketika dalam jangka waktu yang sebentar itu akan membuatmu berpikir sepanjang waktu, tetapi ketika perlahan waktu mulai berlari mungkin hanya kejanggalan yang tersisa. Semacam sisa makanan yang tidak bisa tercerna dengan sempurna, yang akhirnya menjadi racun bagi tubuh. Ibarat kasus pidana sudah di peti kemaskan pabila waktunya sudah terlalu lama, tapi kalau untuk sebuah cerita tidak ada kadaluarsa bagi saya, mungkin hanya sedikit usang. Pernah mendengar novel karya Marah Rusli yang berjudul ‘Memang Jodoh’? karya itu dipendam selama 50 tahun sebelum akhirnya diterbitkan, mungkin usang tapi ialah sesuatu yang belum berakhir dan menuntut untuk dituntaskan segera. Firstly, it’s been three years, have you forgetten the memories from that time? Is it  fully erased? Some people say yes, but the others say no, I don’t know. Pun saya tidak akan mengingat semua kecuali peristiwa yang membekas di benak dan menempel lekat di memori, dan hal tak terselesaikan. Akan tetapi ketika yang tak terselesaikan itu memang sudah tidak menjadi bahan kajian lagi apalah daya, karena yang tersisa hanya kejanggalan itu sendiri. Ibarat kasus kriminal yang tak tuntas tapi pengadilan sudah enggan mengusutnya. Lalu bagaimana? Membiarkan kejanggalan itu bercokol atau mengusutnya sampai tuntas? Me too, truthfully have no answer. Tetapi ketika yang tak terselesaikan itu kemudian akhirnya bertemu titik terang dan tidak ada lagi semburat tanya, bukankah akan lebih janggal karena sesuatu yang sudah dimiliki selama bertahun-tahun tiba-tiba hilang, iya kepemilikan akan rasa janggal. Lengkung tanya itu perlahan-lahan akan memudar dan tak tersisa sama sekali, purna, selesai, finish, done.
Kemudian, bagaimana lagi saya akan membungkus rasa bernama janggal dalam wadah bernama kesakitan. Karena isi wadah itu sudah dileburkan dalam penuntasan yang entah itu bernama penyembuhan atau sebuah tanda titik. Kemudian, akan hilang perlahan seperti abu sisa pembakaran. Lalu selanjutnya? Tidak ada selanjutnya, idealnya setelah titik maka cerita itu selesai dibaca, kemudian ditutup dan sesekali dibuka untuk pembelajaran. Kalau sekuel? Sekuel itu jika dan hanya jika cerita diakhiri tiga titik berturutan bukan satu titik di akhir.”

So, is it all the story? Is  it ended?

Yes.

Sebuah Rekam Jejak Part 3

Part 3, That’s how  word ‘eugene’ comes from
Oke, isi seminar yang aku lupa judulnya pokoknya tema-nya tentang deliberasi media sama ada speaker dari RBTH, RBTH itu kepanjangan dari Russian Beyond The Headlines jadi itu portal online tentang rusia yang ada 27 suplemen di beberapa negara dunia (jujur nggak paham maksud mereka bikin di 27 negara yang isinya melulu tentang negara mereka mihihi). Nah, RBTH sekarang ada di Indonesia yang berkluster sama dengan korea dan jepang. Nah, disini nama speakernya eugene, actually he’s just ordinary russian people but the special one is the way he explains always correlate with something else like kelapa, trus bahasa rusianya nyamuk itu kamar, dan hal-hal absurd lagi, terlucu itu ialah ketika ada penanya (gak tau asalnya dimana) but he’s asking using russian languange, tapi si eugene-nya gagal paham sama pronounciationnya masnya hahaha.

24th of April, Goes To Nielsen (satu-satunya lembaga survey rating media di Indonesia)
Klien-nya mereka nih kayak multimedia owner tv, radio, production house, Ad Agencies. Subjek risetnya mereka itu misal kayak tv audience measurement nah caranya itu research di 10 Kota, using kuantitatif method dan wajib pake landasan dari buku yang judulnya “Global Standart... (lupa hee). Pengambilan sampelnya pake stratified random sampling, pake panel nih (gak berubah), pake alat namanya people meter. Cara kerjanya people meter ini secara real time langsung ngirim data ke software PC yang namanya Arianna.  Jadi gini sampel yang diteliti kalo neliti rating tv itu adalah orang, yang disini disebut panel, nah panel itu dikontraknya 2 tahun, dirumahnya dipasang people meter tadi yang measure aktivitas mereka saat nonton tv, nah research buat rating ini di 10 kota dengan pertimbangan tertentu, begitu pula dengan kualifikasi pemilihan panel nya. Bingung? Ya udah bahas cerita selanjutya deh, intinya itu gimana caranya tau rate TV, eh kok bisa naik rating program ini padahal jelek, nah misal pertanyaan macam itu muncul jadi tau kan gambarannya?? Hehehe. Berminat tau lebih lanjut contact me @fatmadit hahaha.

Oh ya abis itu kita keliling kota tua, masuk museum BI, tanah liat, museum fatahillah and so on. Malemnyaa, eh malem sebelumnya ding, kita kan gabut banget di GIC, anak-anak Med-Mat yang katane serius karena suka riset ternyata gokil banget nih, kita ngemall bareng naik metromini yang berhasil disewain Tata, daaan anak-anak yang katanya serius dibanding anak komunikasi lainnya ini gokiil bareng dengan karaokean 3 jam smpe jam 12 or 1 malem ya? Lupaa :D, unforgetable daaah, mereka gokiiil. Daaan malam puncak pun tiba, commweekend, yang cewer we’re all using black dress, yang cowok pake formal attire. Gue  seumur2 belum pernah ngerasa pengen muntah nunggu pengumuman winner mungkin karena effort udah to the max, preparation to the max, dan sooo optimistic but maybe we’re not lucky enough. Aku sama yofita just holding hands dan karena kita udah berkomitmen untuk lapang dada no matter what. Dan satu pemikiran yang muncul, mungkin maksimalnya kita belum cukup untuk jadi winner. But, Iam all happy cause I met Ge Pamungkas there, one of my favourite comic xoxoxo

Kita yang berasal dari diverse place ini, mulai dari UI, Unpad, Undip, UNS, UB, UAJY, Unair bisa blend gitu dan berasa nemu keluarga baru yang akhirnya kita beri nama ‘Eugene Crew’. Meeting you guys, is such memorable and wonderful part in my life, I love you all. Thanks for becoming a scene in my life.
Menunggu kereta tanggal 26 April yang membawa kembali ke Solo berangkat jam 9 malam, a bunch of happiness, a piece of disappoinment, dan so much valuable knowledge. Sempat melihat indahnya senja di Jekardah, but cannot comfort the awkward stuff.

Thanks All...

Kamis, 10 Juli 2014

Sebuah Rekam Jejak Part 2

Part 2, One week that change my life
Sepanjang perjalanan, gak banyak yang bisa diceritain, mulai dari makanan kereta bisnis yang mahal (*tips makanlah sebelum naik kereta, mahal bet soalnya*), sampe ketiduran, bangun-bangun udah sampe Jatinegara ajaah :D. Kalo sebelumnya ke Jekardah buat tour jadi nggak banyak landscape yang bisa ke record, nah kalo sekarang berhubung semacam luggage-packer jadi ya banyaak banget scene kota jekardah yang gue abadikan. Overall, kesan saya, this city is no longer homey-able, crowded everywhere and also so much traffiic, and full of citizens. Arrived at Senen, lanjut kita naik Commuter Line ke UI, Depok. Karena lumayan pagi, jadi ngerasa enak aja naik Commuter, so much comfy *tanpa tahu gimana commuter kalo udah beranjak siang*. Sekitar pukul 7 pagi, kita nyampe di Stasiun UI, dengan muka bantal, bawa ransel, dan Koper besar, tadaaa jemputan nggak jelas dan belum dateng, So..? dalam kondisi belum mandi dan belum makan, my brilliant idea biasanya sembunyi, tapi suddenly Yofita ngajakin keliling UI dengan muka bantal ini, tentunya dengan ide cemerlangnya lagi nitipin koper ke satpam mihihiw.

3 hours left, kita duduk-duduk strolling FISIP, belum ada tanda-tanda jemputan, sampe finally, Jenderal Med-Mat (Media Matters), si Tata dateng welcoming us dan minta Adit nganter kita ke homestay, dan disitulah kita ketemu temen sekamar kita anak-anak UNDIP (consist of Fina, Kinta, dan Osa). On the Way ke Graha Insan Cita (GIC) kita udah hahahihi aja padahal baru juga kenalan, thats how communication people gets along, easily J Terlebih Si Yofita dan Osa ternyata serumpun gituuh.
Di GIC, sendiri banyak banget memory, mulai dari kamar AC mati sampe harus pindah kamar yang lebih bagus luckily, dan preparation menuju presentasi, kasur yang menampung kelelahan sampai anak-anak yang gokil abis.

Selama 5 hari kita dijemput pake Bikun,kadang-kadang pake mobil juga sih, really so much fun J. Mulai dari Opening-Presentasi+Tanya Jawab-Seminar RBTH dan Media Baru -Nielsen Visit – Karaokean – jalan2 keliling Kota Tua – sampe Commweekend dan Back to reality.

Pas Opening kita dijemput pake mobil, nah disitu pula pertama kali kita ngeliat realita bahwa event anak UI jauh bet sama event anak daerah macam UNS gitu, apalagi danau deket perpusnya gokil banget bray, so romantic kalo mau nongkrong disitu, pas disitu pula aku ambil undian nomer 2 dan opening with lampion ditemani LO unyu asal Surabaya, Rini. Keesokan harinya dengan persiapan segala macam rupa, latian di GIC, depan GIC, sambil makan, sambil tiduran sambil apa aja deh, kita presentasi dan gue ngerasa itu presentasi ter-all-out yang pernah tak lakuin seumur 20-ku ini, begitu selesai langsung suaraku bener-bener abis. Bayangin present full research dari latar belakang, tujuan, rumusan masalah, metode penelitian,hasil yang seabrek, rekomendasi, dll dalam waktu 10 menit... Disaat itu pula kita diserbu pertanyaan membabi buta yang sumpah ini semacam miniatur ujian skripsi kali ya. Kita ditanyai mulai dari teori, proses, studi kasusnya, efeknya, sampai hal-hal detail lain yang tak terpikirkan L Luckily lainnya juga dicerca kayak kita. After that, strolling perpus UI yang keren abiisss, dengan tour guide amatiran, Kak Langit, bareng finalis lainnya. The next day, kita seminar. Isi seminarnya, nanti dipos deh *hee

Sebuah Rekam Jejak

19-26 April 2014
Part 1
19 April, depart from Solo by train to Jekardah, Depok Exactly, to join competition. Untuk sampai di hari ini, 19 April 2014 butuh perjuangan yang luar biasa keren bagi saya, memeras otak sampe bener-bener keriting, tidur berturut-turut jam 3 pagi meskipun harus lanjut kuliah jam 8 nya, tidur pun bukan dalam kondisi yang layak without blanket dan diposisi yang tidak comfort. Sebelum proses itu bahkan, saya dan teman saya, Yofita, harus bolak-balik ke area penelitian di Sragen yang ditempuh lewat jalur darat beriringan dengan truk-truk besar membahana, dan yang paling bahaya *ngantuk di jalan*.

Begini ceritanya, malam habis lembur lanjut kuliah, lanjut perjalanan ke Sragen, We’re off to Sragen, I’m driving while she’s sitting behind me. Perjalanan as spooky as usual, gasak, libet oleh truk-truk dan bis-bis raksasa, walhasil saya yang mengendarai mini size vehicle harus ngalah dong. Tiba-tiba ada suara mengetuk-ngetuk helm saya, “duk...duk...duk”. Oh maaan, she’s sleeping soundly while I’m driving, lalu saya ngerasa berjuang sendirian di tengah jalanan yang penuh aligator. “Oh man, damn, jadi ikutan ngantuk.” Bahaya banget kaaaan? That’s ours sacrifice before goes to Jekardah.

Hohoho preparation is not done yet, ini yang paling ngeselin. Urusan administrasi sama kampus harus kepentok birokrasi yang complicated dan ngeselin bangeeet. H-1 berangkat tapi belum beres masalah persurat-an. But finally, we’re done, with so much efforts and tears.

18.15. We’re off from Balapan to Pasar Senen, Here we go competing the challenge. Jekardah we’re coming.

to be continoued in Part 2

Will it Be?

Is there anyone ever see “a gentleman dignity” (kind of korean drama)? No, Not Yet? Watch it then, cause Iam gonna share about one of the scene that come paralyze in my colourful life kekeke. That evening, yeah I just come from my long and tearful trip to apply magang stuff in other city. I and my friend really have toughtful travel without any references about that city before, so then here we are wandering around organizing all of things we need.


After 12 hours spent there, we’re safely back to our loving city, Solo. Struggling with starve, we decide to go to dinner first, before comeback to our dormitory. So, here that comes, same scenes, different actors, different location and situation hahaha.
Firstly, I wanna describe the scenes above, the two main actors meet in their first episode, staring and gazing instantly while they are barely don’t know each other. Because of rain, that woman come to cafe’s gazebo, while the man sitting neatly for waiting his fellow. They just glancing each other in a few minutes and looks too meaningfully for the one that barely don’t know each other.

So, you know the scene right? Now, turn to my own story, I finally come to dinner place, booking a dish and then sit at my place, that’s my ordinary story. But, that evening, everything comes so smoothly, I come to that dinner place, meeting 2 men that I barely don’t know, first man sitting first in front of me, while the second men looking at me continously before he starts to sit down. Full of curiosity, I also look at that man, cause I know he is staring at me (note: women’s eyes sight wider than man). That man style is so so the style I like, wearing grey jeans trouser, white-lines-shirt that folded in his arm (red: kemeja garis-garis digulung deket pergelangan tangan), and his hair style is just okay (not too much gel or not shaped). Overall his style is just good, I like it.

I and my friend jokingly as usual for booking a dish, and I voluntarily to come to chef’s desk that located after two-men-tables. Iam walking happily (as usual), he’s cheating a look at me. From time Iam waiting for dish until finishing my dish is the same time as them. He and I glancing each other, secretly without my friend and his friend know it. I don’t know what does it mean, but Iam feeling like in that scene of drama but in different situation, not as that romantic but maybe the feels is same. He and I, secretly glancing each other fearless, our gaze (both of us) confidently straight meaningfully. It’s called secretly but bluntly, thats because no one knows beside us but our gaze was so truthful directing each other. And slowly time passes by, it’s time to us for leaving that scene. He’s finishing his dish first, fooling around the way just for passing after me, I know hahaha. So then, that scene comes to end. I don’t mean for any scene after that, but if both of us means to meet again or even to be together, what else could I do. Let’s Allah led our way, maybe thats our only scene or maybe our first scene. Let’s time pass by and reply it.
11 of March 2014.

Jumat, 14 Maret 2014

Who Can Choose Their Own Fate?

“Siapa yang bisa memilih takdir mereka? Terlahir di keluarga bahagia, kaya raya, kelompok marginal atau menjadi seorang yatim piatu. There is no one can choose it. And also me.”
Ketika banyak hal, masalah, not young matters I mean, saya selalu berpikir kenapa harus saya, kenapa harus dia, kenapa harus mereka yang ditunjuk Tuhan untuk menjalani skenario itu. Why? Tetapi saya belum berhasil menemukan jawabannya. Berbeda ketika skenario yang berbunga itu kita dapatkan, kita tidak akan bertanya kenapa saya harus mendapat scene bahagia? We’ll not ask God about such question.
Saya juga masih belum mendapat jawaban ketika pertanyaan untuk kondisi itu tidak muncul, kemudian banyak sekali hal-hal berdatangan yang membuat saya membuka mata saya. Banyak sekali yang membuat saya jealous of. Dan kemudian muncul lagi pertanyaan, “Why God gives them so many happiness, while I’m not? Why aren’t they grateful?”
Lagi-lagi saya bertanya, kenapa Tuhan memilihkan takdir yang berbeda-beda untuk setiap umat-Nya? Kenapa kadar ujian yang diberikan juga berbeda serta cara melewati atau mensyukuri juga berbeda? Layaknya ujian, ketika saya melihat soal saya lalu melihat soal lainnya, saya merasa saya sudah berada pada level yang tinggi dengan tingkat kesulitan yang sangat rumit. Sementara saya melihat soal ujian mereka biasa, tidak memerlukan pemikiran keras otak dan keikhlasan luar biasa dari hati. Iam arrogant. Arrogant for having complicated matters.
Kemudian, “Why God chooses me for finishing this exam? Why should I? Why mustn’t them?”
...

Kemudian saya membuka pandangan saya jauh lebih lebar dari sebelumnya, saya membuka hati saya jauh lebih lapang dari sebelumnya. Saya bertanya lebih tulus dari sebelumnya. Saya berdoa lebih khusyuk dari sebelumnya. Dan saya menemukan jawabannya.
“Bukan hanya saya yang dipilihkan soal sulit, banyak sekali jutaan umat-Nya mendapat soal serupa bahkan lebih luar biasa sulit”
-         “Saya masih bisa tertawa bersama teman sebaya saya dibawah atap yang kokoh dan dinding yang tegap, sementara banyak lainnya yang beratap langit gelap dan berteman angin malam”
-         “Saya masih bisa bermain-main ketika banyak seusia saya yang harus berjuang keras menanggung hidupnya”
-         “Saya masih bisa duduk manis mendengarkan dosen bercerita ketika banyak jutaan anak dibawah umur putus pengharapannya akan ilmu”
What else could be matters beside matters itselves. Saya belajar memaknai setiap hal yang Tuhan ijinkan saya untuk melewatinya. Kunci jawaban dari semua soal sulit itu ada di dalam diri kita. Berhenti melihat soalnya dan mulai mengerjakannya atau tetap meratap menangisinya. Saya memilih yang pertama.
God always teaches us how to survive and deals with our matters. Kamu hanya perlu bertanya dan menjalaninya. Hiduplah di jalan-Nya, you’ll find your path easier

Kamis, 09 Januari 2014

20 Years Old Matters


9 Januari 2014

Iam turning 20 in few months later. Usia yang kalau dipikir-pikir harus mikir berat, halah. Beberapa hari terakhir lumayan mikir sih, Iam turning 20 soon, what I’ve done so far, what I’ve got, and what I’ve learnt. Actually, gue nggak sehebat traveller yang di usia seginian udah keliling beberapa negara, bahkan Indonesia yang lumayan luas pun belum gue jabanin dari ujung ke ujung. Gue terus mikir dan mikir, gue udah berkontribusi apa buat negara gue, nyokap gue, agama gue? Daaan eng..ing..eng gue nemu jawabannya, meskipun gue gak gahuul keliling dunia, tapi gue cukup berkontribusi utk hal-hal yang gue sebutin tadi dalam porsi yang gak sebanyak presiden sih kalau buat negara. At least, I’ve tried hard and learnt hard too :D.
Gue nggak apatis sama kondisi negara gue, siapa yang jadi pejabatnya, apa aja yang mereka lakuin, gue sedikit ngikutin lah, tapi belum sempet ikutin demo sih, pas harga bawang atau bensin naik hehee. Gue juga merhatiin dunia pertelevisian dan perfilman kok lewat mata kuliah gue dan film2 non Indonesia yang udah bejibun gue tonton, yah well kebanyakan kritik sih. Tapi at least gue punya cita-cita, insyaallah mulia, gue pengen studi tentang film dan someday menyumbangkan pemikiran gue buat dunia perfilman Indonesia. Amin Ya Allah J. Well anybody have a right for dreaming.
Dan buat nyokap gue, gue nggak pernah sedikitpun bertindak tanpa mikirin sebab dan akibatnya (masak sih?). Ibaratnya apa yang gue lakuin selalu lah mempertimbangkan gimana pendapatnya beliau. As a single parents, I know how hard it was. For its matters, I know, and Iam forced to think as an adult J. Karena gue ngrasa, the way Iam living right now maybe different from others. Satu-satunya yang kami punya adalah rasa saling memiliki satu sama lain. So that, I love her so much.
Untuk agama gue, gue selalu berusaha lebih baik. Yah, meskipun di usia soon to be 20 ini banyak ngelakuin kesalahan tapi gue sadar kok kalo dosa, at least gue sadar kalau salah. Dan insyaallah masih diberi kesempatan untuk berubah, amiin Ya Allah :D. Nah, di usia ini pula banyak temen2 yang ngomongin tentang menyempurnakan separuh agama, marriage.
Hahaha, what is it? Nggak tau buat orang lain, tapi diusia ini buat gue marriage is matters. Why? Yap bayangan gue terlalu banyak tetek-bengek yang menyertainya dimana gue mikir, gue belum mampu meng-handle nya (ecieee). Tapi tetep salut lah sama temen-temen yang udah siap, semangat yaa hahaha (apasih??). Tapi dari sekian masalahnya->married yang paling penting adalah calonnya, hehehe :D. What’s your criteria? Me? I prefer, responsible ones. He’s the one that would be a leader, so must be responsible. Harus Tanggung Jawab, itu yang paling penting J. What about you? Yang ganteng-kah? Charming-kah? Good looking kah? It doesn’t matter I think, just suggesting sih, carilah yang bertanggungjawab yang siap mengarungi perjalanan panjang nan berliku bersama, no matter what. Charming, good looking kayak Brad Pitt atau Prabu Revolusi kalo tua tetep keriput kok, so choose the best one, out of the best. Really guys it works :D (hahaha halah sok berpengalaman).
NB: Perhatian, the writer, herself masih amatir hehe. Just trial and error, tapi berdasar penerawangan sepuluh menit lumayan bener lah saran ini hehhe.