Jumat, 14 Maret 2014

Who Can Choose Their Own Fate?

“Siapa yang bisa memilih takdir mereka? Terlahir di keluarga bahagia, kaya raya, kelompok marginal atau menjadi seorang yatim piatu. There is no one can choose it. And also me.”
Ketika banyak hal, masalah, not young matters I mean, saya selalu berpikir kenapa harus saya, kenapa harus dia, kenapa harus mereka yang ditunjuk Tuhan untuk menjalani skenario itu. Why? Tetapi saya belum berhasil menemukan jawabannya. Berbeda ketika skenario yang berbunga itu kita dapatkan, kita tidak akan bertanya kenapa saya harus mendapat scene bahagia? We’ll not ask God about such question.
Saya juga masih belum mendapat jawaban ketika pertanyaan untuk kondisi itu tidak muncul, kemudian banyak sekali hal-hal berdatangan yang membuat saya membuka mata saya. Banyak sekali yang membuat saya jealous of. Dan kemudian muncul lagi pertanyaan, “Why God gives them so many happiness, while I’m not? Why aren’t they grateful?”
Lagi-lagi saya bertanya, kenapa Tuhan memilihkan takdir yang berbeda-beda untuk setiap umat-Nya? Kenapa kadar ujian yang diberikan juga berbeda serta cara melewati atau mensyukuri juga berbeda? Layaknya ujian, ketika saya melihat soal saya lalu melihat soal lainnya, saya merasa saya sudah berada pada level yang tinggi dengan tingkat kesulitan yang sangat rumit. Sementara saya melihat soal ujian mereka biasa, tidak memerlukan pemikiran keras otak dan keikhlasan luar biasa dari hati. Iam arrogant. Arrogant for having complicated matters.
Kemudian, “Why God chooses me for finishing this exam? Why should I? Why mustn’t them?”
...

Kemudian saya membuka pandangan saya jauh lebih lebar dari sebelumnya, saya membuka hati saya jauh lebih lapang dari sebelumnya. Saya bertanya lebih tulus dari sebelumnya. Saya berdoa lebih khusyuk dari sebelumnya. Dan saya menemukan jawabannya.
“Bukan hanya saya yang dipilihkan soal sulit, banyak sekali jutaan umat-Nya mendapat soal serupa bahkan lebih luar biasa sulit”
-         “Saya masih bisa tertawa bersama teman sebaya saya dibawah atap yang kokoh dan dinding yang tegap, sementara banyak lainnya yang beratap langit gelap dan berteman angin malam”
-         “Saya masih bisa bermain-main ketika banyak seusia saya yang harus berjuang keras menanggung hidupnya”
-         “Saya masih bisa duduk manis mendengarkan dosen bercerita ketika banyak jutaan anak dibawah umur putus pengharapannya akan ilmu”
What else could be matters beside matters itselves. Saya belajar memaknai setiap hal yang Tuhan ijinkan saya untuk melewatinya. Kunci jawaban dari semua soal sulit itu ada di dalam diri kita. Berhenti melihat soalnya dan mulai mengerjakannya atau tetap meratap menangisinya. Saya memilih yang pertama.
God always teaches us how to survive and deals with our matters. Kamu hanya perlu bertanya dan menjalaninya. Hiduplah di jalan-Nya, you’ll find your path easier

Kamis, 09 Januari 2014

20 Years Old Matters


9 Januari 2014

Iam turning 20 in few months later. Usia yang kalau dipikir-pikir harus mikir berat, halah. Beberapa hari terakhir lumayan mikir sih, Iam turning 20 soon, what I’ve done so far, what I’ve got, and what I’ve learnt. Actually, gue nggak sehebat traveller yang di usia seginian udah keliling beberapa negara, bahkan Indonesia yang lumayan luas pun belum gue jabanin dari ujung ke ujung. Gue terus mikir dan mikir, gue udah berkontribusi apa buat negara gue, nyokap gue, agama gue? Daaan eng..ing..eng gue nemu jawabannya, meskipun gue gak gahuul keliling dunia, tapi gue cukup berkontribusi utk hal-hal yang gue sebutin tadi dalam porsi yang gak sebanyak presiden sih kalau buat negara. At least, I’ve tried hard and learnt hard too :D.
Gue nggak apatis sama kondisi negara gue, siapa yang jadi pejabatnya, apa aja yang mereka lakuin, gue sedikit ngikutin lah, tapi belum sempet ikutin demo sih, pas harga bawang atau bensin naik hehee. Gue juga merhatiin dunia pertelevisian dan perfilman kok lewat mata kuliah gue dan film2 non Indonesia yang udah bejibun gue tonton, yah well kebanyakan kritik sih. Tapi at least gue punya cita-cita, insyaallah mulia, gue pengen studi tentang film dan someday menyumbangkan pemikiran gue buat dunia perfilman Indonesia. Amin Ya Allah J. Well anybody have a right for dreaming.
Dan buat nyokap gue, gue nggak pernah sedikitpun bertindak tanpa mikirin sebab dan akibatnya (masak sih?). Ibaratnya apa yang gue lakuin selalu lah mempertimbangkan gimana pendapatnya beliau. As a single parents, I know how hard it was. For its matters, I know, and Iam forced to think as an adult J. Karena gue ngrasa, the way Iam living right now maybe different from others. Satu-satunya yang kami punya adalah rasa saling memiliki satu sama lain. So that, I love her so much.
Untuk agama gue, gue selalu berusaha lebih baik. Yah, meskipun di usia soon to be 20 ini banyak ngelakuin kesalahan tapi gue sadar kok kalo dosa, at least gue sadar kalau salah. Dan insyaallah masih diberi kesempatan untuk berubah, amiin Ya Allah :D. Nah, di usia ini pula banyak temen2 yang ngomongin tentang menyempurnakan separuh agama, marriage.
Hahaha, what is it? Nggak tau buat orang lain, tapi diusia ini buat gue marriage is matters. Why? Yap bayangan gue terlalu banyak tetek-bengek yang menyertainya dimana gue mikir, gue belum mampu meng-handle nya (ecieee). Tapi tetep salut lah sama temen-temen yang udah siap, semangat yaa hahaha (apasih??). Tapi dari sekian masalahnya->married yang paling penting adalah calonnya, hehehe :D. What’s your criteria? Me? I prefer, responsible ones. He’s the one that would be a leader, so must be responsible. Harus Tanggung Jawab, itu yang paling penting J. What about you? Yang ganteng-kah? Charming-kah? Good looking kah? It doesn’t matter I think, just suggesting sih, carilah yang bertanggungjawab yang siap mengarungi perjalanan panjang nan berliku bersama, no matter what. Charming, good looking kayak Brad Pitt atau Prabu Revolusi kalo tua tetep keriput kok, so choose the best one, out of the best. Really guys it works :D (hahaha halah sok berpengalaman).
NB: Perhatian, the writer, herself masih amatir hehe. Just trial and error, tapi berdasar penerawangan sepuluh menit lumayan bener lah saran ini hehhe.

Jumat, 13 Desember 2013

Truly Big Fan “Keeping a distance, don’t come too close”


13-12-13

I just gotta back from meeting him (who?). Guess who? Hehee. Yep Iam already prepared for today’s event. Mulai dari ngirim email jauh-jauh hari, karena yang pengen ketemu dia hari ini ternyata banyaak. Dan gue, sebut saja salah satu dari ribuan itu :D.
Back to topic, kalian pasti punya someone special yang You really dream of or admire of kan? Me too. Gue mulai ngefans dia pas masih jaman high schooler lah, lupa SMP atau SMA. Dari banyak tokoh bersliweran yang muncul di TV, sosoknya itu catching my attention well, halah :D. Yep, thats him, PRABU REVOLUSI. Jaman dahulu kala itu, jarang banget ada news anchor yang bisa disebut good looking, mukanya pada serius semua, walhasil yang pada nonton berita pasti pada berkerut semua. Tapi itu berubah, ketika sosok smart nan trendy mulai marak dari seorang News Anchor, let’s say Mas Prabu nih pioneer-nya. Hihihi..

Liat dia pertama kali di salah satu stasiun TV yang sekarang lagi demam joget-jogetan gitu (nggak mau sebut merk, takut dikira public relations-nya,eh ups :D) sampai sekarang dia di TV berita yang bisa dibilang keren lah untuk ukuran negara gue tercinta ini. Gue tetep suka. Mulai dari dia sebelum jadi news anchor, masih jomblo, trus jadi news anchor, trus married, trus divorced, trus married again. Sampai detik ini gue masih ngefans. Iam a big fans. Tanya kenapa? Gue nggak tau absolute reason-nya, but actually, I just found out, that he is so good enough to be admiring of. Hihihi...
Dan today’s event gue finally meet him, setelah melewatkan beberapa kesempatan sebelumnya. Sama kayak yang terlihat di layar kaca ataupun bayangan gue, he’s not that tall but actually full of charm. From the way he talks, the way he cares, until the way he shares, really really perfect (for me, of course). Pasti kalo fans itu punya foto bareng atau tanda tangan, atau mahakarya-nya kan? Buat gue itu mainstream banget. Fans itu harus jaim. Caring but keep a distance, don’t come too close, hahaha. Karena fans itu kan cuma bisa lihat dari jauh, kalo terlalu dekat nanti udah gak ada greget lagi, gak deg-degan kalo ketemu lagi. Karena apa? “Aku udah pernah lho foto bareng trus minta tanda tangannya ato pin BB nya,” Nah itu jadi gak spesial kan? Karena level curiosity dan rasa pengen ketemunya udah menurun hahaha.
Kalo kamu tetep menjaga jarak beberapa meter (catet ini tips :D) dari idola kamu, meskipun kamu satu ruangan, rasa penasaran kamu akan tetep tinggi. Dijamin deh. Misal, “Aduh dari jauh rambutnya shining banget yaa, kira2 pake gel apa ya?” Kalian bakal cuma bisa nebak2 karena gak bisa smell the scent of gel, atau ngetes tingkat kehalus-an gel nya :D. Walhasil kamu akan tetep penasaran dan awet ngefans sama doi. IT WORKS GUYS, REALLY. Jadi kalo kalian ngefans sama tokoh or whoever, tetep bikin diri kalian penasaran. Dijamin awet tuh ngefans nya, like me :D
Well, today I meet him but still keeping a distance, its so much fun. Thanks anyway kakak Prabu hehee.

Rabu, 20 November 2013

Kepada Dia


19 November 2013, 21:38
Dia yang hanya bisa menyimpan rindunya sebatas air muka
Tak sempat membisik liar pada angin sang gita
Dia yang tak sempat beranjak dan berteriak lantang
tentang yang sudah menghujam dan menyayat hati
Dia yang tidak bisa bertutur
Bahkan kepada dirinya sendiri
Yang tidak mampu mengartikulasikan rindu sebening embun pagi

Dia...Untuk dan Kepada Dia yang dituju
Sepotong rindu atau entah hanya seberkas memori yang menggeliat keluar
Dia kepada Dia yang tidak mampu terungkapkan
Entah apa yang dirasa
Tetapi dia memiliki ‘banyak’ yang tak terungkapkan
Kepada Dia...

Jumat, 08 November 2013

God Teaches Me

Sebelumnya semuanya baik-baik saja. Saya yang panickable (red-mudah panik), straight to the point, dan tidak suka pekerjaan yang ditunda-tunda. Tidak apa-apa dan semuanya baik-baik saja. Sampai saya berada dalam satu posisi dimana saya harus bertanggung jawab, harus merangkul, dan menampung semua aspirasi. Terpikir dalam mindset saya adalah 'Saya harus wise' harus bisa bijak dalam segala hal, tempatkan diri dalam posisi yang benar, posisi yang merendah tapi bukan untuk direndahkan tetapi juga posisi yang tinggi bukan untuk dihormati tapi untuk mengayomi. Saya harus begitu, being a good leader. Tetapi ketika banyak sekali kondisi yang menekan saya disana-sini, ya seperti gas didalam balon yang sempit pasti akan meledak kan? That's how Iam, dan itu sangat manusiawi. Meskipun kadar dan cara meledak itu berbeda-beda. Saya bukan orang yang cenderung menahan, ketika benar-benar banyak yang harus ditampung dan itu diluar kapasitas saya, mungkin saya akan membahayakan orang disekitar saya. Dan saya sadar tidak semua orang bisa menerima ledakan. Tidak semua orang. Lets say, saya selalu dikelilingi orang-orang sabar ataupun orang-orang yang kadar ignorant-nya tinggi untuk ledakan saya, tanpa saya sadari ada pula orang yang sensitif dan tidak mengenal saya dengan baik. Terlepas dari good will apapun dibaliknya, sensitif person tidak akan berpikir sejauh itu, karena mereka terlalu sibuk untuk mengawasi rasa sakitnya (saya juga mengalaminya). Dan saya menghiraukan hal itu. Mungkin seperti sebuah tamparan keras bagi saya. Dan saya cenderung merasa gagal. Gagal menafsirkan kondisi untuk memberikan feedback yang sesuai. Gagal mengayomi dan mengapresiasi.
Lagi-lagi Tuhan menjawab pertanyaan saya beberapa waktu terakhir, kenapa saya sering sekali meledak, kenapa? dan saya harus bagaimana untuk mengatasinya? Melalui scene secara langsung memang lebih efektif dibanding sebuah petuah. That's how God teaches me to be more patient. Untuk tidak menjadi ignorant, untuk menjadi lebih baik. Setidaknya menjadi lebih baik dari kemarin, bahwa saya pernah salah. Dan Tuhan mengajarkan bagaimana sakitnya orang yang salah. Seems lost her own way.
Thanks Rabb.
And for whoever (I've been made him/her mad) sorry for all of the disturbance I made

Sabtu, 28 September 2013

Eternal Flame

Saturday Night, suddenly thinking 'bout this song

- Eternal Flame -
Close your eyes
Give me your hand, darlin'
Do you feel my heart beating
Do you understand
Do you feel the same
Am I only dreaming
Is this burning an eternal flame

I believe it's meant to be, darlin'
I watch you when you are sleeping
You belong to me
Do you feel the same
Am I only dreaming
Or is this burning an eternal flame

Say my name
Sun shines through the rain
A whole life so lonely
Now come and ease the pain
I don't want to lose this feeling, ohhh..

(Instrumental)

Say my name
Sun shines through the rain
A whole life so lonely
Now come and ease the pain
I don't want to lose this feeling, ohhh..

Close your eyes
Give me your hand, darlin'
Do you feel my heart beating
Do you understand
Do you feel the same
Am I only dreaming
Or is this burning an eternal flame

Give me your hand, darlin'
Do you feel my heart beating
Do you understand
Am I only dreaming
Or is this burning an eternal flame